Siapkah untuk Digitalisasi Pertanian?
- vstory
Kepemilikan lahan juga menjadi permasalahan dalam penerapan digitalisasi di sektor pertanian. Luas kepemilikan lahan pertanian rata-rata kecil (0,1-0,4 hektar) dan sebagian besar hanya menjadi petani penggarap dengan mengusahakan pertanian di lahan milik orang lain, sehingga hasilnya harus dibagi dua. Selain itu, dampak maraknya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian juga menyebabkan petani kekurangan lahan untuk bercocok tanam. Hal tersebut menyebabkan petani Indonesia sebagian besar masih menggunakan sistem bertani yang konvensional atau tradisional.
Sistem pengalihan teknologi dari tradisional menjadi digital dalam pengelolaan pertanian belum mampu diterima secara luas oleh para petani. Mereka masih banyak memilih menggunakan cara-cara tradisional dibanding peralatan teknologi canggih dan digital. Selain karena keterbatasan biaya, keterbatasan pengetahuan juga menjadi faktor yang menghambat laju penerapan teknologi digital untuk merambah sektor pertanian secara Iuas.
Dengan demikian, satu hal yang paling penting dalam kesiapan upaya penerapan teknologi digital di tingkat petani adalah mengubah mindset petani dari cara-cara tradisional ke arah digital. Selain itu petani memerlukan bukti, bahwa pertanian dengan menggunakan teknologi digital mampu membawa petani ke arah yang lebih baik dan meningkatkan kesejahteraannya. Kalau hasil yang diperoleh petani dengan menggunakan teknologi digital sama saja dengan cara-cara konvensional, maka petani akan enggan beralih ke teknologi digital. Di sinilah peran pemerintah sangat diperlukan untuk memberikan bukti, sekaligus edukasi yang cukup bagi para petani dengan membuat pilot-pilot penerapan teknologi digital yang bisa menjadi bukti, bahwa penerapan teknologi digital bisa menjadi solusi petani untuk menjadi lebih sejahtera.
Pemerintah telah mengembangkan beberapa aplikasi yang berbasis digital seputar pertanian. Aplikasi ini berguna bagi para petani untuk mengakses layanan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada empat masa tanam (pra tanam, tanam, pasca panen, dan panen). Aplikasi yang diberi nama LogTan isinya berupa data-data petani, luas lahan, rencana tanam dan identifikasi lainnya. Data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan analisis, mengetahui korelasi cuaca dengan rencana tanam, ketepatan kebutuhan pupuk, sensor tanah, pemupukan otomatis, hingga akurasi prediksi panen. Terdapat pula layanan berupa distribusi pupuk, penyediaan benih hingga pendampingan dari PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PT Pupuk Indonesia (Persero). Sedangkan pasca panen, petani dapat mengakses layanan penjualan hasil tani dan distribusi hasil tani yang difasilitasi oleh PT Pupuk Indonesia, PT Permodalan Nasional Madani, Perum Bulog, dan PT Pegadaian.
