Pembatasan Bisnis Thrifting dan Industri Mikro Kecil
- vstory
Pakaian memang menjadi simbol penting yang mendeskripsikan pemakainya karena menjadi simbol penampilan yang tentunya didukung dengan citra merek produk yang dipakai. Produk pakaian erat dipersepsikan dengan identitas diri penggunanya. Pakaian bermerek impor diyakini mampu meningkatkan persepsi status sosial pemakainya yang dianggap bernilai mahal dan berkorelasi dengan persepsi kualitas produk yang digunakan.
Pakaian bermerek dianggap sebagai bagian penting untuk diterima di kalangan sosial khususnya generasi milenial. Preferensi generasi milenial terhadap produk impor dipengaruhi oleh lingkungan sosial dengan tujuan dapat beradaptasi atau diterima oleh lingkungan sosial mereka. Maraknya bisnis pakaian bekas impor menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha pakaian. Dikhawatirkan fenomena bisnis ini menekan pertumbuhan usaha lokal yang tentu berdampak bagi perekonomian secara menyeluruh. Meskipun telah ditetapkan aturan pelarangan impor pakaian bekas oleh pemerintah, upaya edukasi pada berbagai lapisan konsumen Indonesia juga perlu diintensifkan oleh semua pemangku kepentingan.
Ajakan cinta produk dalam negeri atau produk lokal tetap menjadi bagian penting dalam mengedukasi konsumen. Model edukasi konsumen dapat dimulai dari generasi milenial yang menjadi target pasar bisnis ini. Penggunaan role model menjadi bagian penting dalam proses edukasi konsumen. Dimulai dengan penggunaan produk lokal dalam berbagai upaya promosi dan sehari-hari, tokoh masyarakat, pemimpin, serta pelaku hiburan dan seni dapat menjadi important role model yang tepat dalam mengedukasi cinta produk dalam negeri. Selain edukasi cinta produk lokal atau dalam negeri, tentunya juga perlu diiringi dengan peningkatan kualitas produksi yang mampu bersaing dengan produk luar. (Suparna, Statistisi Madya BPS Provinsi DIY)
