Rocky  Gerung Seorang Republikan

Dari kiri Furqan Jurdi, Rocky Gerung dan Aktivis HMI Abdul Gafur (dok pribadi)
Sumber :
  • vstory

Mendengar pertanyaan dari H Agus Salim yang berdiri di atas podium, para ternyata lebih riuh seraya serempak menyahut dengen menyebut nama hewan, “anjing!”. Musso dan para peledek H Agus Salim terdiam.

img_title Integritas Firli Bahuri dan Komitmen Penegakan Hukum Irjen Karyoto

Tradisi intelektual hebat inilah yang ingin dihidupkan dalam percakapan publik. Kehadiran Rocky di Panggung politik Indonesia, tidak sebagai politisi tetapi sebagai akademisi dan intelektual bahkan filosof sangat diharapkan untuk mengembalikan percakapan hebat dan berbobot itu. Dengan percakapan seperti itulah kita merawat republik.

Tetapi memang telinga kekuasaan sangat tipis terhadap para pengkritik. Mereka hanya ingin dipuja dan dipuji layaknya seorang kaisar atau raja. Inilah yang akhirnya menyumbat percakapan yang intelektual. Opini publik dipenuhi dengan pujian dan “gosip politik” bahkan berita kriminal dari politisi, tidak ada percakapan publik yang membuat waras dan mencerahkan.

img_title Pembangunan 1 Kota IKN Vs 40 Kota, Apa Rugi dan untungnya?

Rocky Itu Republikan

 Seorang republikan tidak akan menundukkan dirinya pada keramahan feodal, tidak menghamba pada monarki, tidak takut pada tirani. Dia akan memilih jujur dan benar daripada kesopanan yang palsu dan menjenuhkan.

img_title 5 Poin Penting Kunjungan Jokowi ke Afrika

Rocky datang dari tradisi intelektual yang kritis dan tradisi kewarganegaraan yang jujur. Dia tidak menipu dirinya untuk menyenangkan orang lain apalagi untuk menghamba pada kekuasaan. Rocky menunjukkan ciri warga negara republik.

Plato, Penulis Buku Republik yang terkenal itu adalah seorang filsuf yang tidak terjebak pada feodalisme dan enaknya istana. Meskipun menjadi Penasihat Raja Dionysios dia tidak terjebak pada kenyamanan monarki itu dan lebih memilih untuk mengajarkan kejujuran dan moralitas kepada si Raja, meskipun Plato tau bahwa penguasa akan jenuh dengan kebenaran dan moralitas itu. 

Seorang filsuf tidak akan berpura-pura untuk sebuah kebenaran. Juga tidak akan menggantungkan nasibnya pada kekuasaan. Persis seperti itu Rocky Gerung memposisikan dirinya, meskipun dia tau bahwa kapan saja dia bisa dekat kepada Kekuasaan dan menjadi bagian penting di dalam istana.

Dia tidak tergiur dengan kemewahan jabatan dan lencana itu, dia hanya terobsesi pada perbaikan pikiran anak bangsa dan perbaikan masa depan Indonesia. Karena kesadaran itu dia memilih jalan menjadi “oposisi” bagi kekuasaan yang congkak dan dungu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut