Bahaya Persepsi bagi Otak Kita
- vstory
Secara sederhana rumusnya yaitu saat ada pemandangan di depan kita, maka kita akan menggunakan mata untuk memandanginya. Masalahnya yang dapat kita temukan adalah ketika mata digunakan, banyak sekali saraf yang langsung terhubung dengan otak untuk menangkap sinyal ataupun gambar kemudian otak bekerja melakukan analisis, mendeskripsikan dan juga membuat kesimpulan dari apa yang kita lihat. Setelah melauli banyak hal yang kita lewati di kehidupan dan banyak memori dari penglihatan kita yang terekam oleh otak, maka secara tidak sadar terkadang otak akan membuat keputusan secara tiba-tiba menyimpulkan ‘suka’ atau ‘tidak suka’.
Sebagaimana yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja kita naik kereta, kemudian melihat pemandangan suasana ramainya orang dengan kesibukannya masing-masing di dalam kereta. Ada yang sibuk bermain handphone, mendengarkan musik, melihat pemandangan di luar jendela kereta atau bahkan melamun memikirkan banyak hal di dalam otaknya.
Dari semua hal yang kita lihat di dalam kereta tiba-tiba saja fokus pada satu hal. Rasa ketertarikan muncul dengan tiba-tiba dengan kacamata yang dipakai oleh orang yang sedang berdiri di sisi kiri kereta, kacamata itu berbentuk segi enam dan membuat orang itu menjadi lebih cantik dan unik. Kemudian suatu ketika pergi ke toko kacamata, namun hal yang dicari pertama kali adalah kacamata segi enam. Nah hal ini secara tidak sadar ternyata melalui pemandangan yang diterima oleh mata langsung direkam oleh otak sebagai bentuk ketertarikan kita terhadap sesuatu.
2. Suara
Kemudian lanjut pada poin kedua dari sumber rangsangan yaitu suara. Umumnya suara dihasilkan oleh adanya getaran yang sampai ke gendang telinga kita dan ditangkap oleh otak menjadi informasi yang dapat membuat kita tertarik atau sebaliknya. Namun pernahkah kamu memejamkan mata dan fokus dengan suara yang ada di sekitarmu?
Pada poin ini, terkadang suara yang direkam oleh otak kita tiba-tiba mengambil kesimpulan ini bagus atau ini buruk dan menjadi berkelanjutan. Misalnya ketika kita sedang ngobrol dengan teman, kemudian teman kita menceritakan bahwa dia baru selesai nonton film dan mendeskripsikan sedikit alur cerita dari film tersebut. Meskipun teman kita tidak mengatakan film itu seru atau tidak, namun dengan mendengar dari cara pembawaan cerita teman kita, maka suara yang diterima dan direkam akan dianalisis otak dan menyimpulkan bahwa film itu seru atau tidak.
