Bahaya Persepsi bagi Otak Kita
- vstory
Kemudian, suatu ketika kita pergi untuk menonton film. Meskipun teman kita tidak menyuruh atau merekomendasikan film tersebut, namun karena kita penasaran dengan alur cerita yang sudah diberitahu separuhnya oleh teman kita, maka kita akan menonton film tersebut dan membuktikan sendiri dari hasil kesimpulan yang telah dibuat terhadap penggalan cerita yang pernah diceritakan oleh teman kita.
3. Penciuman
Pada dasarnya indra penciuman dapat dikendalikan dengan mengambil pilihan menghirup atau tidak. Indra penciuman ini terjadi ketika adanya udara yang dihirup dan masuk melalui hidung dan disampaikan ke otak untuk dicari tau hal-hal yang terdeteksi dari hasil dari penciuman tersebut. Hasil tersebut dapat terjadi ketika adanya pengalaman yang sudah pernah dilalui dan didefinisikan arti dari bau tersebut. Sebut saja bau bunga, sebelum adanya pengalaman menghirup bau bunga maka sampai kapan pun otak tidak akan merespons atau memberitahu hasil dari arti penghirupan tersebut.
Misalnya saja kita pergi ke bioskop, namun pada awalnya kita hanya berniat untuk nonton bioskop saja tanpa membeli makanan. Namun otak kita merespons lain ketika kita mencium bau popcorn yang begitu menggoda. Secara tidak sadar otak akan memerintahkan kaki untuk melangkah ke arah tempat popcorn dan hasilnya adalah kita memutuskan untuk membeli popcorn juga sebagai pelengkap menonton film.
4. Rasa
Selagi membahas sumber rangsangan pada poin empat ini yaitu rasa, pernahkah kamu makan mie instan? atau minum kopi? jika jawabannya iya, mari kita lanjutkan pembahasan ini yang menjadikannya faktor yang berbahaya bagi otak kita. Sumber rangsangan ini pada hakikatnya akan diterima oleh mulut yang bertugas sebagai pengecap rasa.
Rasa yang diidentifikasi ada banyak variasinya, manis, asam, asin, pedas dan pahit. Biasanya kita akan mengernyitkan dahi ketika kita merasa asam, atau tiba-tiba garuk-garuk kepala saat merasa kepedasan. Bahkan yang lebih ekstrem adalah rasa itu menjadi candu bagi yang pernah mencobanya, salah satunya adalah mie instan.
Mie instan merupakan makanan populer yang sangat cocok dilidah dan menjadi candu bagi jutaan orang yang sudah menyicipinya. Semua saraf yang ada di lidah menerima semua rasa yang sudah diracik sedemikian rupa dan dikirim ke otak dan membuat otak kita sangat senang dengan rasa yang dapat memanjakan lidah. Otak akan menganalisis semua informasi yang didapat, mulai dari rasa, kemudian mencari tahu merek mie instan tersebut yang berujung menjadikan otak akan menolak produk serupa dengan merek yang berbeda. Sehingga hal ini menyebabkan secara tidak sadar otak akan mengeliminasi merek lain dan menjadikan merek mie instan yang sudah terekam menjadi prioritas utama.
