Alternatif Menanggulangi Kekerasan di Dunia Pendidikan
- vstory
Lebih dari itu, melalui kampanye juga, masyarakat dari setiap kalangan didorong untuk ikut berperan aktif menciptakan kedamaian dalam kehidupan. Fokus dari masyarakat seharusnya adalah berkarya menghasilkan sesuatu untuk kemajuan diri sendiri dan sekitarnya.
Kedua, memberikan contoh penyelesaian masalah sosial yang baik. Salah satu faktor yang menyebabkan kekerasan semakin marak dan liar terjadi adalah lingkungan yang menjadi faktor predisposisi terjadinya kekerasan. Lingkungan sosial yang cenderung menyelesaikan masalah dengan kekerasan, maka akan mudah terekam kepada anak-anak maupun siapa saja yang menyaksikan untuk melakukan hal yang sama manakala dihadapkan dengan permasalahan ataupun keadaan yang tidak sesuai dengan kemauan. Hal ini kemudian perlu dipahami bersama, bahwa lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar perlu mencontohkan pendidikan yang penuh dengan kenyamanan dan kedamaian, hindari kekerasan sehingga anak-anak akan mencontoh hal yang baik tersebut.
Ketiga, penegakan hukum secara adil. Keberadaan sistem hukum yang kurang tegas juga akan memengaruhi terjadinya tindak kekerasan di dalam masyarakat. Hal ini bisa saja terjadi ketika muncul perasaan kecewa ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa keputusan hukum memihak kepada harta ataupun jabatan. Kekecewaan inilah yang kemudian memunculkan rasa dalam diri seseorang untuk melakukan tindak kekerasan sebagai bentuk kemarahan. Keadilan dalam tegaknya hukum kemudian akan menciptakan pemerintahan yang baik.
Ketiga alternatif itu bisa dilakukan oleh pemangku kepentingan sebagai upaya mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah. Sebagaimana disampaikan di awal, tentu untuk keberhasilannya butuh kerja sama dalam mengimplementasikan dan konsisten dalam menerapkan alternatif solusi tersebut.
Selain memasifkan ketiga alternatif tersebut, untuk menanggulangi dan mencegah terjadi kekerasan di lingkungan sekolah, maka perlu diimbangi dengan internalisasi nilai, seperti menanamkan nilai-nilai positif dalam pembelajaran, memberikan pemahaman perihal konflik dan cara untuk mengatasinya, melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran agar orang tua juga mengetahui perkembangan anak-anaknya sehingga mampu ikut serta dalam mendidik dan mengawal pembelajaran yang jauh dari kekerasan. Sekolah juga harus mengidentifikasi peserta didik maupun warga sekolah lainnya yang berpotensi untuk melakukan kekerasan, jika ada, maka perlu adanya pendekatan secara individual kepada subjek yang dianggap berpotensi untuk melakukan tindak kekerasan.
