Dari Mesin Pencari ke Media Sosial: Bagaimana Konsumen Mengakses Informasi?
- vstory
Konsep perilaku konsumen yang dijelaskan oleh Solomon sebenarnya bukan hal baru. Strategi berbasis memori ini telah lama diterapkan dalam marketing konvensional. Namun, media komunikasi terus berevolusi. Di tengah pergeseran tren digital, pasar harus tetap adaptif dan jeli membaca perubahan.
Jika sebelumnya strategi utama digital marketing berfokus pada optimasi mesin pencari (SEO), kini brand mulai mengalihkan perhatian pada algoritma TikTok dan bagaimana konten mereka bisa tampil di halaman For You Page (FYP). Evolusi ini menjadi penanda bahwa kekuatan video pendek bukan hanya tren sementara, tetapi medium baru dalam membangun relevansi dan koneksi emosional dengan konsumen.
Navigasi Tren Digital: Haruskah Brand Mengikuti Arus?
TikTok telah menjadi warna baru dalam lanskap bisnis digital. Platform ini membawa perubahan dalam pola perilaku konsumen sekaligus menghadirkan tantangan dan peluang, khususnya bagi bisnis B2C (Business-to-Consumer). Bisnis yang menyasar individu merupakan pasar yang ideal untuk menerapkan strategi ini demi memperluas jangkauan produk mereka.
Namun, bagaimana dengan bisnis B2B (Business-to-Business)? Apakah memanfaatkan TikTok adalah strategi pemasaran yang relevan bagi mereka?
Sebagian pihak beranggapan bahwa platform ini tidak sesuai dengan target pasar B2B. Ada pula yang masih skeptis dan memandang TikTok sebatas media hiburan, kurang cocok untuk bisnis yang mengedepankan citra profesional dan pendekatan formal seperti perusahaan B2B atau korporasi.
Namun, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian para stakeholder: di balik setiap keputusan bisnis B2B, tetap ada manusia. Artinya, faktor emosional tetap memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan. Branding yang efektif bukan hanya soal menyampaikan informasi secara rasional, tetapi juga tentang membangun keterikatan emosional dengan audiens.
Fenomena ini tercermin dari para kreator konten seperti Felix Sulhendri dan Raymond Chin Verren yang sukses memanfaatkan TikTok sebagai platform edukasi bisnis dan keuangan. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa pengguna TikTok tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga informasi yang bernilai. Perubahan perilaku ini semestinya menjadi peluang bagi perusahaan untuk menyesuaikan strategi komunikasinya agar lebih relevan dengan kebiasaan audiens saat ini.
