Dari Mesin Pencari ke Media Sosial: Bagaimana Konsumen Mengakses Informasi?
- vstory
Michael R. Solomon juga menegaskan bahwa setelah brand mencapai tahap awareness, langkah selanjutnya adalah membangun keterlibatan emosional dengan audiens. Salah satu caranya adalah dengan mengelaborasi identitas brand agar memiliki “nyawa” yang mampu membentuk koneksi dengan target pasar.
Contoh konkret dari penerapan strategi ini dapat dilihat pada akun resmi TikTok "Pesona Indonesia". Dengan konsisten menggunakan berbagai sound 'Jamet' viral, akun ini tidak hanya berhasil meningkatkan brand awareness, tetapi juga menciptakan interaksi dan keterikatan emosional dengan audiens. Meskipun dikelola oleh instansi pemerintah, kontennya tetap diterima secara luas karena dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik target audiens.
Perubahan lanskap digital tentu menimbulkan pro dan kontra. Apakah setiap brand harus mengikuti tren dan jump on the bandwagon? Jawabannya tidak selalu. Kebijaksanaan dalam menyusun strategi digital tetap menjadi pagar utama yang perlu dijaga oleh setiap perusahaan.
Digitalisasi media sosial dan pergeseran perilaku konsumen bukanlah fenomena yang bisa dihindari, melainkan harus dipahami dan direspons secara adaptif. Di tengah derasnya arus tren, fondasi brand equity yang kuat menjadi jangkar agar brand tidak kehilangan arah. Brand yang memahami nilai inti mereka akan lebih mampu memilih platform dan merancang konten yang selaras dengan identitas serta positioning mereka di mata konsumen.
Dengan pendekatan yang tepat, TikTok dan platform sejenis tidak lagi sekadar ruang hiburan. Mereka dapat menjadi alat komunikasi yang strategis membangun brand presence, memperkuat keterlibatan emosional, dan menciptakan koneksi yang lebih autentik dengan audiens lintas generasi.
Karena pada akhirnya, bukan soal mengikuti tren semata, tetapi bagaimana sebuah brand mampu hadir dengan relevan dan bermakna, di tempat di mana audiens mereka berada.
