BMKG: El Nino 2026 Berpotensi Jadi Sangat Kuat, Musim Kemarau Lebih Panjang
- VoxPop.co.id/ Satria Zulfikar (Mataram)
Jakarta, VoxPop – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan fenomena El Nino 2026 berpeluang meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi ini berisiko menyebabkan musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama di sejumlah wilayah Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Dialog Nasional yang digelar Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta.
Teuku menjelaskan hasil pemantauan BMKG menunjukkan El Nino saat ini memiliki indeks ENSO sebesar +1,59, sehingga masuk kategori kuat.
"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Teuku, Selasa 4 Agustus 2026.
Ia mengatakan BMKG telah memberi peringatan sejak pertengahan Maret 2026 saat El Nino masih diproyeksikan berada pada level moderat.
Selanjutnya, pada 2 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan fenomena El Nino telah aktif.
Menurut Teuku, El Nino mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
BMKG memperkirakan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Sementara itu, musim hujan diprediksi mulai terjadi pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah.
Teuku menambahkan El Nino yang mulai aktif sejak Juni 2026 diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027. Namun, hal tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
"Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan," katanya.
BMKG juga mencatat dampak El Nino tidak dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Daerah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering serta lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.
