Korut Akui Tembakkan Rudal ke Wilayah Jepang, Diklaim Bisa Sampai Daratan AS
- KCNA
VoxPop Dunia – Korea Utara mengatakan bahwa uji coba rudal balistik antarbenua terbaru yang diyakini jatuh di zona ekonomi eksklusif (EEZ) Jepang, dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kapasitas serangan nuklirnya terhadap para pesaingnya, sekaligus respons atas pelatihan militer yang direncanakan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Dilansir AP, Minggu, 19 Februari 2023, uji coba rudal balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM) hari Sabtu, merupakan uji coba rudal pertama Korea Utara sejak 1 Januari 2023, menandakan pemimpin Korut Kim Jong Un menjadikan dalih latihan militer AS-Korsel sebagai kesempatan untuk memperluas kemampuan nuklir negaranya.
Seorang ahli mengatakan Korea Utara mungkin berusaha mengadakan latihan operasional reguler yang melibatkan ICBM-nya.
Kantor Berita Pusat Korea resmi Korea Utara (KCNA) mengatakan peluncuran ICBM Hwasong-15 yang ada diatur “tiba-tiba” tanpa pemberitahuan sebelumnya atas perintah langsung Kim.
KCNA mengatakan peluncuran itu dirancang untuk memverifikasi keandalan senjata dan kesiapan tempur kekuatan nuklir negara itu. Dikatakan rudal itu ditembakkan pada sudut tinggi dan mencapai ketinggian maksimum sekitar 5.770 kilometer (3.585 mil), terbang dengan jarak sekitar 990 kilometer (615 mil) selama penerbangan 67 menit sebelum secara akurat mengenai area yang telah ditentukan sebelumnya, perairan antara Semenanjung Korea dan Jepang.
VoxPop Militer: Rudal balistik antarbenua Korea Utara, Hwasong-15
- Forward Observer
Peluncuran sudut curam tampaknya ditujukan untuk menghindari negara tetangga. Rincian penerbangan yang dilaporkan oleh Korea Utara, yang kira-kira cocok dengan informasi peluncuran yang sebelumnya dinilai oleh negara tetangganya, menunjukkan bahwa senjata tersebut secara teoritis mampu mencapai daratan AS jika ditembakkan pada lintasan standar.
Peluncuran rudal Hwasong-15 mendemonstrasikan kapasitas fisik nuklir Korut dan efeknya yang kuat. Peluncuran ini juga mengubah kapasitas serangan balik nuklir yang fatal terhadap pasukan musuh menjadi sangat kuat yang tidak dapat dilawan, kata KCNA.
Apakah Korea Utara memiliki ICBM berujung nuklir yang berfungsi masih menjadi sumber perdebatan di luar negeri. Sebab, beberapa ahli mengatakan bahwa Korea Utara belum menguasai teknologi untuk melindungi hulu ledak dari kondisi parah saat masuk kembali ke atmosfer. Namun, Korea Utara mengklaim telah memperoleh teknologi semacam itu.
