Perang Dagang Trump Picu Pemberontakan, Partai Republik Bergejolak
- AP Photo/Evan Vucci
Rand Paul, senator dari Kentucky juga mempertanyakan konstitusionalitas tarif tersebut.
"Konstitusi kita sangat spesifik bahwa pajak dan tarif adalah pajak yang harus berasal dari DPR, bukan hanya ditetapkan oleh presiden," ungkapnya.
Selanjutnya, Susan Collins yang menyoroti dampak negatif tarif terhadap industri di negara bagiannya, Maine, termasuk sektor lobster, pertanian, serta pulp dan kertas. Ia juga mengecam alasan Trump yang menuduh Kanada bertanggung jawab atas masuknya fentanil ke AS.
"Faktanya, sebagian besar fentanil di Amerika berasal dari perbatasan selatan [bukan dari Kanada]," ujarnya di ruang Senat.
Senada itu, Murkowski, senator Alaska, memperingatkan bahwa tarif ini akan merugikan negaranya yang berbatasan langsung dengan Kanada.
"Kami adalah teman, tetangga, mitra, dan sekutu dalam ekonomi, pertahanan, budaya, dan perdagangan," tulisnya di X.
Ketegangan Meningkat di Partai Republik
Perlawanan terbuka dari sejumlah senator Republik menandakan meningkatnya ketegangan di dalam partai, yang sebagian besar memilih diam karena khawatir akan dampak politik dari Trump.
Thom Tillis, senator dari North Carolina, memperingatkan potensi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki bagi konstituen petaninya.
"Mereka yang mengatakan ini hanya kesulitan sementara harus berbicara dengan para petani saya, yang tinggal satu musim panen lagi dari kebangkrutan," katanya kepada CNN.
Sementara itu, pemimpin mayoritas Senat dari Partai Republik, John Thune, berusaha menyeimbangkan kekhawatirannya dengan kesetiaan terhadap Trump.
"Saya punya masalah. Saya mewakili negara bagian yang sangat bergantung pada ekspor," paparnya.
"Tetapi saya menghargai upaya presiden untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik."
Di sisi lain, Demokrat tidak ragu mengkritik kebijakan Trump dan memuji pemberontakan dari Partai Republik.
"Inilah yang terjadi ketika orang berbicara," tulis Senator Cory Booker dari New Jersey.
Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat, bahkan menyindir kebijakan Trump dengan menulis, "Tarif 54% untuk Tiongkok, tarif 10% untuk Iran, tarif 0% untuk Rusia", diikuti emoji bingung.
Senator Brian Schatz dari Hawaii menulis lebih tajam, "Saya belum pernah melihat seorang presiden merusak ekonomi dengan sengaja."
Sementara itu, Chris Murphy dari Connecticut berkomentar, "Inilah yang harus dipahami. Semuanya disengaja. Menciptakan kekacauan dan krisis."
