Bikin Bangga! 30 UMKM Batik Sukabumi–Cianjur Tampil di Paris
- Istimewa
“Itu bersama LPS, saat itu di hadapan ketuanya, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang sekarang sudah menjadi Menteri Keuangan. Kami melakukan presentasi, dan beliau sudah lama mengikuti perjalanan Batik Fractal. Atas arahan beliau, program pelatihan ini dijalankan selama tiga tahun, dari 2022 sampai 2025, dengan tujuan membentuk sentra baru batik di Indonesia,” jelas Nancy.
“Kisah ini dikawal langsung oleh Pak Purbaya, bahkan kami harus membuat laporan bulanan dan mengadakan pertemuan rutin supaya beliau bisa melihat sejauh mana progresnya. Harapan beliau sejak awal adalah agar batik dari daerah yang belum dikenal bisa langsung go internasional, dan akhirnya tercapai sesuai milestone yang sudah dirancang sejak awal,” tambahnya.
Dalam pagelaran di Paris, sepuluh koleksi busana yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik. Motif-motif batik yang dihadirkan mengusung tema Whispering Forest, terinspirasi dari bentang alam Parahyangan—gunung, hutan, laut, dan budaya lokal—dengan pendekatan desain digital menggunakan perangkat lunak JBatik.
“jBatik adalah software desain yang berjalan di komputer untuk mengevolusi proses desain batik menjadi digital sehingga desain bisa lebih banyak, modern, dan mempercepat waktu produksi,” terang Nancy.
“Batik bukan hanya budaya, tetapi juga memiliki sisi ekonomi dan harus masuk ke pasar, mengikuti tren fesyen. Dengan teknologi ini, kita bisa mengajak lebih banyak anak muda untuk mencintai batik,” lanjutnya.
Keikutsertaan Rumah Batik Fractal dan LPS bersama 30 UMKM di Front Row Paris menjadi tonggak penting dalam perjalanan batik Sukabumi–Cianjur. Menurut Nancy, dampak paling besar setelah tampil di Paris adalah meningkatnya rasa percaya diri para peserta. Karya yang mereka tekuni di desa bisa tampil di panggung dunia—menjadi kebanggaan sekaligus portofolio berharga.
“Ke depan, tantangannya adalah menjaga momentum, melakukan follow-up dengan para buyer, dan memastikan Batik Indonesia tampil berbeda di pasar global. Hasil riset kami di Paris menunjukkan bahwa batik harus ditampilkan dalam fesyen yang modern dan avant-garde supaya bisa masuk ke pasar luar negeri,” papar Nancy.
