Trump Bela Pangeran MBS soal Pembunuhan Jamal Khashoggi: Dia Tidak Tahu Apa-apa!
- AP
Washington, VoxPop – Presiden Donald Trump membela Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dalam kunjungan pertamanya ke AS dalam tujuh tahun, Selasa, 18 November 2025. Ia mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh kerajaan Saudi tersebut "luar biasa dalam hal hak asasi manusia" dan menepis pertanyaan tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
Intelijen AS mengatakan bahwa MBS, demikian ia dikenal, menyetujui operasi yang menyebabkan pembunuhan Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post dan kritikus Saudi, oleh agen-agen Saudi di Istanbul, yang memicu kemarahan global.
"Banyak hal terjadi, tetapi dia tidak tahu apa-apa tentang itu, dan kita bisa berhenti di situ," sela Trump ketika sang pangeran ditanya tentang pembunuhan Khashoggi dilansir ABC, Rabu, 19 November 2025.
Jurnalis pengkritik Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
- Aljazeera
Perdebatan di Ruang Oval terjadi setelah Trump menyambut MBS di Gedung Putih dengan upacara kedatangan yang mewah, dilengkapi karpet merah dengan bendera dan barisan kehormatan militer AS yang menunggang kuda dan membawa bendera AS dan Saudi.
Ketika Kepala Koresponden Gedung Putih ABC News, Mary Bruce, bertanya tentang pembunuhan Khashoggi dan kemarahan yang diungkapkan keluarga korban 9/11 atas kunjungan tersebut karena dugaan peran Arab Saudi dalam serangan itu, Trump dengan marah berkata kepada Bruce, "Anda tidak perlu mempermalukan tamu kami dengan mengajukan pertanyaan seperti ini."
"Sejauh menyangkut pria ini, dia telah melakukan pekerjaan yang fenomenal," kata Trump tentang sang pangeran.
"Anda menyebut seseorang yang sangat kontroversial," kata Trump merujuk pada Khashoggi. "Banyak orang tidak menyukai pria yang Anda bicarakan itu, entah Anda menyukainya atau tidak, banyak hal terjadi, tetapi dia tidak tahu apa-apa tentang itu, dan kita bisa berhenti di situ," katanya tentang MBS.
Putra mahkota sebelumnya membantah telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi tetapi akhirnya mengakui tanggung jawabnya sebagai penguasa de facto kerajaan.
Pada tahun 2021, sebuah laporan dari komunitas intelijen AS menemukan, "Kami menilai bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, menyetujui operasi di Istanbul, Turki untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi."
Laporan tersebut menambahkan, "Putra Mahkota memandang Khashoggi sebagai ancaman bagi Kerajaan dan secara luas mendukung penggunaan tindakan kekerasan jika perlu untuk membungkamnya."
