Survei: Indonesia Jadi Negara dengan Kesejahteraan Psikologis Terbaik di Dunia

Ilustrasi hidup bahagia.
Sumber :
  • dw

Jakarta, VoxPop – Dalam sebuah survey global yang dirilis pada pertengahan tahun ini, terungkap bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan skor flourishing atau kesejahteraan psikologis tertinggi di dunia. Survei bertajuk Global Flourishing Study ini melibatkan lebih dari 200 ribu responden di 22 negara di enam benua.

img_title Prabowo Ungkap Kesejahteraan Petani Meningkat: Banyak yang Liburan ke Luar Negeri

Dalam survei ini, para responden diminta menilai berbagai aspek hidup mereka mulai dari kesehatan fisik, tingkat kebahagiaan, rasa hidup bermakna, karakter, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kesejahteraan spiritual. Seluruh aspek tersebut digabungkan menjadi satu gambaran utuh untuk menilai kualitas hidup seseorang secara menyeluruh.

Dari survei ini diketahui Indonesia berhasil di posisi pertama disusul Israel dan Filipina. Sementara Jepang berada di posisi tiga terbawah, bersama Turki dan Inggris.

img_title Legislator PDIP: Orang Akan Enggan Menjadi Guru Jika Kesejahteraannya Diabaikan

“Urutan negara-negara ini sebenarnya tidak seperti yang kami duga.  Memang negara-negara maju cenderung lebih tinggi dalam hal keamanan finansial dan evaluasi hidup, tetapi mereka tidak setinggi negara lain dalam hal makna hidup, kualitas hubungan, dan karakter prososial,”kata Tyler VanderWeele, salah satu penulis studi sekaligus peneliti dari Universitas Harvard,dikutip dari laman Euronews, Kamis 20 November 2025.

Temuan ini cukup mengejutkan sebab berbeda dengan World Happiness Report yang terbit setiap tahun, di mana negara-negara Eropa biasanya mendominasi peringkat atas. Swedia, misalnya, berada di posisi keempat dalam laporan kebahagiaan, namun dalam studi flourishing ini justru hanya ada di posisi tengah di antara Amerika Serikat dan Afrika Selatan.

img_title DPR Siap Kerja Sama dengan Parlemen India, Puan: Beri Manfaat Bagi Kesejahteraan Rakyat

Menurut VanderWeele, perbedaan ini bisa terjadi karena laporan kebahagiaan lebih berfokus pada penilaian hidup, sedangkan studi flourishing mencakup aspek kesejahteraan yang lebih luas.

“Kalau aspek-aspek lain juga ikut diperhitungkan, daftar peringkatnya memang jadi terlihat berbeda,” ujarnya.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa membandingkan negara tidak selalu mudah karena perbedaan bahasa dan budaya yang dapat memengaruhi cara seseorang mengisi survei.

Meski begitu, beberapa pola besar tetap terlihat, meskipun ada pengecualian. Contohnya, orang yang menikah dan berpendidikan tinggi cenderung memiliki tingkat kesejahteraan lebih baik. Namun di India dan Tanzania, justru responden lajang melaporkan kesejahteraan lebih tinggi. Di Hong Kong dan Australia, mereka yang pendidikannya lebih rendah malah lebih mungkin merasa hidupnya berkembang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut