Mengenal Cilia Flores Istri Maduro, Sosok Berpengaruh di Balik Kekuasaan Venezuela

Ibu Negara Venezuela, Cilia Flores dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Sumber :
  • Getty Image via BBC News

Jakarta, VoxPop – Dalam sejarah politik dunia, kekuasaan tidak selalu dijalankan oleh sosok yang paling sering tampil di hadapan publik. Di banyak rezim, justru figur yang berada di belakang layar memiliki pengaruh paling besar terhadap arah kebijakan dan konsolidasi kekuasaan. 

img_title Venezuela Bersiap Mundur dari Mahkamah Pidana Internasional

Hal ini pula yang dinilai terjadi di Venezuela, di mana Cilia Flores disebut memainkan peran krusial yang jauh melampaui statusnya sebagai istri presiden.

Cilia Flores, istri Nicolás Maduro, disebut memiliki pengaruh politik yang sangat besar dalam rezim Venezuela. Saat menjalani sidang pertamanya setelah ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat bersama suaminya, Flores bahkan menegaskan posisinya. 

img_title Bertambah Lagi! Korban Tewas Gempa Venezuela Jadi 5.278 Orang

“Saya adalah ibu negara Republik Venezuela,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Rabu, 7 Januari 2026.

Namun, berbagai pihak yang mengenal pasangan ini menilai Flores bukan sekadar ibu negara. Sebelum dipindahkan ke New York, kekuasaannya disebut sebanding, bahkan dalam beberapa momen melebihi tokoh-tokoh penting lain dalam rezim, termasuk Delcy Rodríguez. 

img_title Fantastis! Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.930 Orang

Nicolás Maduro sendiri kerap menyebut istrinya bukan sebagai first lady, melainkan “pejuang pertama”, istilah yang mencerminkan keterlibatannya langsung dalam politik.

Eva Golinger, pengacara dan penulis asal Amerika Serikat yang pernah menjadi penasihat Hugo Chávez, mengungkapkan kedekatan dan pengaruh Flores. 

“Flores memang istri Maduro, tetapi lebih dari itu. Ia adalah mitra utamanya, orang kepercayaan terdekatnya, dan dalam banyak hal membantu jalan Maduro naik ke dunia politik,” ungkapnya. 

 “Flores lebih berperan sebagai otak, sementara Maduro lebih sebagai tenaga. Bukan berarti mengabaikan kemampuan Maduro sebagai operator politik yang sukses, tetapi Flores adalah pilar utama yang mendukungnya dalam segala hal,” kata Golinger. 

Keduanya pertama kali bertemu pada 1990-an di sebuah penjara Venezuela saat mengunjungi mentor politik mereka, Hugo Chávez, yang kala itu dipenjara akibat percobaan kudeta. Saat itu, Maduro masih berprofesi sebagai sopir bus dan pemimpin serikat buruh, sedangkan Flores adalah pengacara yang tergabung dalam tim hukum yang memperjuangkan pembebasan Chávez.

Setelah Chávez dibebaskan dan memenangkan pemilu pada 1999, pasangan ini terjun penuh ke dalam gerakan politik yang kemudian dikenal sebagai Chavismo. Mereka mendapatkan posisi strategis dan secara bertahap memperluas pengaruhnya di pemerintahan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut