Belum Ada Obatnya, Seberapa Mematikan Virus Nipah bagi Manusia?
- Pixabay
Jakarta, VoxPop –Virus nipah yang terjadi di Bengal Barat India menjadi sorotan dunia. Hingga Selasa 27 Januari 2026, dilaporkan dua perawat dari rumah sakit swasta dekat Kolkata terkonfirmasi positif virus ini. Salah satu perawat dilaporkan dalam keadaan kritis.
Virus nipah merupakan infeksi zoonosis yang sangat berbahaya dan telah berulang kali muncul di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dan dibawa oleh kelelawar pemakan buah (spesies Pteropus). Kondisi ini membuat penularan ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung tetap menjadi ancaman serius.
Pada manusia, infeksi virus Nipah bisa bervariasi, mulai dari gejala ringan bahkan tanpa gejala, hingga gangguan pernapasan berat dan ensefalitis fatal atau radang otak. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus khusus yang disetujui.
Dengan tingkat kematian yang pada wabah-wabah sebelumnya berkisar antara 40 hingga 75 persen, virus ini menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di wilayah mana pun ia muncul.
“Begitu seseorang terinfeksi, penularan antarmanusia juga bisa terjadi, terutama dalam situasi kontak dekat,” ujar Konsultan Penyakit Menular di Manipal Hospital, Old Airport Road, Dr. Neha Mishra dikutip dari laman NDTV, Selasa 27 Januari 2026.
Ia menambahkan, kasus awal sering kali sulit dikenali, sehingga keterlambatan deteksi dapat meningkatkan risiko penularan dan memperburuk hasil klinis. Memahami alasan mengapa virus Nipah membutuhkan deteksi dini mulai dari cara penularan hingga tingkat keparahan penyakit sangat penting bagi kesiapan masyarakat dan sistem layanan kesehatan.
Apa Itu Virus Nipah dan Bagaimana Penularannya
Virus Nipah adalah patogen zoonosis yang pertama kali diidentifikasi pada 1998. Sejak itu, virus ini dikaitkan dengan berbagai wabah di Bangladesh, India, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kelelawar pemakan buah merupakan reservoir utama virus ini.
Manusia umumnya terinfeksi saat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar, terutama nira kurma mentah praktik yang cukup umum di beberapa wilayah Asia Selatan.
“Salah satu tantangan dalam infeksi virus Nipah adalah adanya fase tanpa gejala pada sebagian kasus. Hal ini membuat deteksi dini menjadi sulit dan meningkatkan risiko penularan tanpa disadari,” Dr. Mishra menjelaskan.
