Fakta-fakta Pertempuran Surabaya, Cikal Bakal Hari Pahlawan
- Tudji Martudji/ VoxPopnews.com
Pengibaran itu dilakukan pada tingkat teratas Hotel Yamato yang sekarang adalah Hotel Majapahit, sisi sebelah utara. Melihat hal itu, pemuda marah karena Belanda telah hina kedaulatan Indonesia.
4. Perundingan dan Perobekan Bendera Belanda
Usai pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) masuk ke Hotel Yamato untuk berunding dengan Ploegman.
Namun, Ploegman menolak turunkan bendera Belanda dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Sehingga akhirnya terjadi perkelahian dan membuat Ploegman tewas tercekik oleh pengawal Sudirman.
Saat kejadian itu, beberapa pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Pemuda bernama Hariyono dan Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera dan merobek bagian warna biru lalu mengerek kembali merah putih ke puncak tiang dengan pekik 'Merdeka'.
5. Meletus Pertempuran Surabaya
Usai kejadian Hotel Yamato pada 27 Oktober 1945 mulailah meletus pertempuran pertama Indonesia melawan asing yaitu AFNEI. Dari serangan kecil berubah jadi serangan umum yang buat Inggris minta Ir. Soekarno meredam emosi rakyat Surabaya.
6. Brijen Mallaby Tewas
Masih dalam situasi pertempuran, kemudian disepakati adanya gencatan senjata antar kedua pihak, namun bentrokan bersenjata tetap saja terjadi. Dan puncaknya adalah terbunuhnya Jenderal Mallaby.
Pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur itu tewas pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30 WIB, ketika mobil Buick yang ditumpanginya berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah.
Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya.
7. Belanda Marah dan Sebar Ultimatum
Setelah pemimpinnya tewas, Belanda kemudian dipimpin oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh memberikan ultimatum dengan menjatuhkan 500 ribu ultimatum untuk meminta pimpinan Indonesia di Surabaya menyerahkan diri dengan batas waktu pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.
Namun, ultimatum tersebut nyatanya tak digubris arek-arek Suroboyo yang justru pada Subuh dini hari pada 10 November 1945 turun ke medan perang untuk mati demi kemerdekaan.
Pada saat itu, Bung Tomo dan Gubernur Suryo mulai membentangkan obor dan membakar semangat dan jiwa kepatriotan Surabaya. Dari situlah arek Suroboyo maju ke medan pertempuran dibantu pasukan dari luar Surabaya.
