Kisah Sultan Zainal Abidin Syah, Tokoh yang Pertahankan Papua untuk Indonesia Kini Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
- istimewa
Jakarta, VoxPop – Presiden RI Prabowo Subianto resmi menetapkan sepuluh tokoh bangsa sebagai Pahlawan Nasional 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Senin, 10 November 2025.
Salah satu nama adalah Sultan Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore ke-26 yang dikenal sebagai Gubernur pertama Irian Barat (Papua) dan tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan wilayah timur Indonesia dari upaya penguasaan Belanda.
Penetapan nama-nama pahlawan tersebut dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, yang mengatakan Presiden Prabowo telah menerima berbagai masukan sebelum mengambil keputusan final.
Menurut Prasetyo, pemberian gelar ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pemimpin bangsa yang telah memberikan jasa besar bagi negara.
“Terutama para pemimpin kita, yang apapun sudah pasti memiliki jasa luar biasa terhadap bangsa dan negara,” tuturnya.
Profil Sultan Zainal Abidin Syah
- Nama lengkap: Sultan Zainal Abidin Syah Alting
- Lahir: 15 Agustus 1912, Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara
- Wafat: 4 Juli 1967, Ambon
- Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kapahaha, Ambon (kemudian dipindahkan ke Soa-Sio, Tidore, pada 11 Maret 1986)
- Jabatan penting: Sultan Tidore ke-26 (1947–1967), Gubernur Irian Barat pertama (1956–1961)
Asal Usul dan Pendidikan
Zainal Abidin Syah lahir dari pasangan Dano Husain Alting dan Boki Salma Alting, keturunan bangsawan Kesultanan Tidore. Ia menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Batavia, dan OSVIA Makassar, sekolah pegawai bumiputra yang didirikan Belanda.
Meski menempuh pendidikan Belanda, Zainal Abidin tumbuh dengan semangat nasionalisme tinggi. Ia bertekad agar rakyatnya tidak “dibodohi” penjajah dan bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Awal Karier dan Kedekatan dengan Papua
Sejak 1937, ia meminta penugasan ke wilayah Nieuw-Guinea (Papua) dan bekerja sebagai pejabat pemerintahan di Sorong dan Manokwari. Langkah ini bukan untuk melayani Belanda, melainkan untuk memahami masyarakat Papua yang secara historis merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Tidore. Karena kedekatan dan pengabdiannya, rakyat Papua menjulukinya “Sultan Papua III.”
Sikap Tegas Melawan Penjajahan
Zainal Abidin dikenal berpegang pada falsafah leluhur Tidore: “Gate saya rako moi, mari moi ngone foturu,” yang berarti berjuang agar rakyat bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain dalam keadaan merdeka dan bermartabat.
