Fenomena Awan Lentikularis Muncul, Berbahaya bagi Penerbangan

Fenomena awan Lentikularis di sekitar Gunung Arjuno, Jawa Timur.
Sumber :
  • VoxPop/Lucky Aditya (Malang)

VoxPop – Fenomena awan lentikularis muncul di atas Gunung Arjuno, Jawa Timur pagi tadi, Kamis, 5 November 2020. Fenomena ini terlihat jelas di sekitaran Malang dan Kota Batu. Warga pun mengabadikan momen langka awan mirip UFO ini dengan mengambil gambar foto atau pun video.

img_title Tuntaskan Operasional Haji 2026, Garuda Indonesia Layani 102.705 Jemaah dengan OTP 94,3 Persen

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto, mengatakan fenomena ini jarang terjadi. Biasanya, terjadi hanya di sekitaran Gunung atau dataran tinggi. Secara umum tidak berbahaya bagi masyarakat. Namun, berbahaya bagi jalur penerbangan.

"Awan yang tampak seperti itu (UFO) adalah awan lentikularis, yang tumbuh di sekitaran gunung atau dataran tinggi. Secara umum tidak berbahaya akan tetapi bagi dunia penerbangan cukup berbahaya, karena pesawat akan mengalami turbulensi atau guncangan," kata Teguh, Kamis, 5 November 2020.

img_title Aturan Baru Bagasi Penumpang Garuda Bisa dapat Jatah hingga 64 Kg, Intip Detailnya

Baca juga: Takut Esemka Sepi Pembeli, UAS Tak Berani Boikot Produk Prancis

Secara ilmiah, awan lentikularis terjadi akibat adanya gelombang gunung atau angin lapisan atas permukaan gunung yang cukup kuat. Gelombang yang terjadi di satu sisi kemudian membentur dinding pegunungan. Sehingga terjadilah bentuk awan bertingkat dan berputar.

img_title Dukung Pertumbuhan Bisnis Penerbangan RI, INACA Tekankan Perlunya Kebijakan Responsif Pemerintah

"Awan lentikularis terjadi akibat adanya gelombang gunung atau angin lapisan atas (di atas permukaan) yang cukup kuat dari suatu sisi gunung membentur dinding pegunungan. Sehingga menimbulkan turbulensi di sisi gunung lainnya dan membentuk awan-awan bertingkat yang berputar seperti lensa," ujar Teguh.

Teguh menerangkan, awan-awan ini mengindikasikan adanya turbulensi atau putaran angin secara vertikal yang cukup kuat di sekitaran Gunung Arjuno yang memiliki ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sehingga berbahaya bagi penerbangan rendah seperti helikopter di sekitar awan.

"Fenomena awan ini secara meteorologi, tidak mengindikasikan fenomena lain seperti akan datangnya gempa atau bencana besar lainnya. Awan tersebut hanya mengindikasikan adanya turbulensi di lapisan atas (bukan di permukaan bumi),” katanya.

Fenomena ini, lanjut dia, jarang terjadi dan hanya bersifat momentum atau waktu-waktu tertentu. “Biasanya ditandai adanya kecepatan angin yang cukup kuat lebih dari beberapa hari di sekitar pegunungan," tutur Teguh. (ase)

Pertamina Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Summit 2026

Produk UMKM Binaan Pertamina Bakal Tersedia di Seluruh Penerbangan Lokal Pelita Air

Pertamina memperluas akses pemasaran produk UMKM binaannya melalui seluruh penerbangan Pelita Air guna mendongkrak daya saing produk lokal & memperkuat ekonomi kerakyatan

img_title
VoxPop.co.id
26 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut