Sekjen PDIP: Megawati Hadirkan Rekonsiliasi, Tak Ada Dendam Masa Lalu
- VoxPopnews/Eduward Ambarita
VoxPop – Pengukuhan gelar Profesor Kehormatan (Guru Besar Tidak Tetap) kepada Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri oleh Universitas Pertahanan (Unhan) RI, dinilai sudah tepat.
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengatakan pengukuhan gelar itu sebagai bukti bahwa di bawah kepemimpinan Megawati selama menjadi Presiden, Indonesia bisa menghadapi krisis multidimensi. Sehingga bangsa ini bisa bangkit dan mendapat kepercayaan baik dari dalam maupun luar negeri.
"Kepemimpinan Ibu Megawati sangat kuat dan penuh tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Ibu Megawati diakui mampu membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensi dan mendapat pengakuan dari dalam dan luar negeri. Selain itu, kepemimpinan Bu Mega juga menghadirkan rekonsiliasi nasional, tidak ada dendam terhadap masa lalu, dan melarang untuk menghujat Pak Harto karena kesadaran pentingnya melihat masa depan. Atas kiprah kepemimpinannya selama ini, Ibu Megawati tercatat telah menerima sembilan gelar Doktor Honoris Causa dari dalam dan luar negeri,” jelas Hasto dalam keterangannya yang diterima VoxPop, Selasa 8 Juni 2021.
Hasto yang juga kini menjadi mahasiswa program doktoral di Universitas Pertahanan, memandang Megawati memiliki jejak kepemimpinan sejak menjadi anggota parlemen, Wakil Presiden kemudian menjadi Presiden perempuan pertama di Indonesia.
Melalui keputusan Megawati pula, di era pemerintahannya melahirkan sejumlah lembaga institusi negara. Antara lain Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Saat itu diketahui, Indonesia bisa dikatakan pada masa transisi menuju sistem demokrasi.
"Ibu Megawati telah meletakkan pondasi yang kuat bagi tata negara dan tata pemerintahan dengan tradisi demokrasi yang baik. Pemilu dibawah kepemimpinan beliau, anggaran sangat efektif dan dikenal sangat demokratis,” ucap Hasto.
Hasto melanjutkan, pengalamannya di eksekutif dan legislatif, Megawati diuji saat memimpin partai era Orde Baru yang penuh penindasan. Puncaknya peristiwa 27 Juli 1996.
Saat ini, lanjut Hasto, Megawati membawa PDIP menjadi partai pemenang pemilu dan berhasil mengantarkan kadernya, Joko Widodo, menjadi Kepala Negara dua periode. Hasto juga mengatakan, Megawati juga memiliki peran yang unik dalam upaya mendamaikan konflik di semenanjung Korea.
Oleh karenanya selama ini, putri dari proklamtor Bung Karno tersebut selalu diterima dengan baik oleh kedua pemimpin kedua negara tersebut.
