Tsunami di Trunojoyo
- VoxPop/M Ali Wafa
Pertemuan Presiden Jokowi dan Kapolri, Kapolda dan Kapolres
- VoxPop/M Ali Wafa
Mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, menganggap momen pertemuan dan arahan Presiden Jokowi kepada pejabat utama Polri ini suatu yang luar biasa. Apalagi, dalam TR sebelumnya, ada maklumat bahwa seluruh peserta menggunakan seragam PDL tanpa tutup kepala, tanpa tongkat komando.
Mereka yang dipanggil Presiden juga dilarang membawa ADC (ajudan) dan handphone, dan hanya diperkenankan membawa buku dan pulpen.
"Tidak pakai tutup kepala ini kan simbol agar pikiran dibuka, dilihat. Tongkat komando itu kan simbol kekuasaan. HP itu simbol kemewahan, enggak perlu bawa ajudan, Anda bawa catatan dan pulpen, itu kan simbol kerja. Pak Jokowi ini kan orang Solo, banyak simbol-simbol," ujar Susno dalam perbincangan di tvOne.
Susno mengatakan, salah satu yang disoroti dalam pertemuan itu adalah kekecewaan Presiden Jokowi terhadap merosotnya kepercayaan masyarakat kepada Polri. Beberapa kasus yang melibatkan oknum anggota Polri disorot, karena dianggap sebagai biang kerok tergerusnya kepercayaan publik.
"Beliau sangat kecewa, Polri dari 80,2 persen anjlok jadi 54 persen, terjelek ini. Itu kasus Kanjuruhan 132 nyawa melayang, akibat Sambo, sesama polisi saling tembak di Lampung, terakhir Kapolda main sabu 5 Kg. Habis itu nanti apalagi?" ungkap Susno
Tsunami Polri
Mantan Kapolda Sumatera Selatan itu menyoroti kasus narkoba yang menjerat Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa Putra. Menurutnya, ini merupakan pukulan telak bagi Polri, karena ada pejabat utamanya yang justru menjadi pelaku kejahatan salah satu yang paling serius di republik ini.
"Ini mengagetkan, bikin bencana tsunami di Polri. Jenderal bintang 2, Kapolda di Sumatera Barat, kemudian ditunjuk jadi Kapolda di Jawa Timur. Itu Kapolda tipe A. Kalau benar (terbukti mengendalikan peredaran narkoba) ini sungguh bencana yang sangat besar," ujarnya
Menurutnya, kasus narkoba yang menjerat Irjen Teddy Minahasa menunjukkan sistem pembinaan karir, seleksi jabatan dan seleksi pendidikan perwira Polri belum berjalan baik. Bagaimana mungkin, seorang anggota Polri yang punya jabatan strategis 'pemain' kasus narkoba justru mendapat promosi jabatan Kapolda tipe A.
"Ini sebuah kekeliruan dalam sistem pembinaan karir, kekeliruan pembinaan mental Polri, kok bisa tembus bisa dapat bintang, sampai bisa dapat jabatan strategis, nah ini harus dibenahi secara menyeluruh, ini koreksi buat Kapolri dan pejabat senior di Mabes, ayo benahi ini," katanya
