Isu Pergantian Kapolri Dinilai Rugikan Presiden Prabowo, Boni Hargens Ungkap Alasannya

Analis politik, Boni Hargens
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Analis politik, hukum, dan isu intelijen Boni Hargens menilai wacana pergantian Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) bakal merugikan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Boni, dalam situasi politik yang sedang panas, khususnya setelah berakhirnya polemik kasus korupsi yang melibatkan mantan petinggi kejaksaan, pergantian Kapolri berisiko diartikan secara keliru oleh berbagai pihak, terutama kelompok oposisi yang aktif membangun narasi alternatif di ruang publik.

img_title Istana Bantah Ada Surpres Pergantian Kapolri

Boni memperingatkan bahwa dalam lanskap politik Indonesia saat ini, setiap kebijakan eksekutif yang sensitif akan diuji bukan hanya dari sisi legalitasnya, tetapi juga dari sisi narasinya. 

Menurut Boni, opini yang secara objektif keliru pun bisa menjadi sangat efektif apabila didistribusikan pada momen yang tepat dan diarahkan kepada segmen masyarakat yang sudah memiliki kecurigaan terhadap pemerintah.

img_title Kapolri Tegaskan Seluruh Pihak Siap Bekerja Sama Jaga Keamanan HUT ke-81 RI

"Kita baru selesai dengan polemik soal kasus korupsi yang melibatkan mantan petinggi kejaksaan. Ada kelompok dalam masyarakat yang menilai itu bentuk konflik antarlembaga kepolisian dan kejaksaan meskipun penilaian itu tidak benar," ujar Boni Hargens kepada wartawan, Kamis, 6 Agustus 2026.

Ia menilai keputusan secara substansial sah dan legitim dapat dieksploitasi secara naratif oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Ia menyebut secara spesifik "kelompok oposisi jalanan" sebagai aktor yang berpotensi memanfaatkan momentum pergantian Kapolri untuk membangun opini yang merugikan presiden.

img_title Menko Polkam: Situasi Dalam Negeri Sangat Mantap, Semua Masih Terkendali

"Kelompok oposisi dapat mengklaim bahwa pergantian Kapolri dilakukan karena Kapolri terlalu berani mengusut kasus korupsi yang melibatkan oknum dari Kejaksaan Agung, sebuah narasi yang menghubungkan keputusan administratif dengan dugaan intervensi terhadap penegakan hukum," tandas Boni.

Boni secara eksplisit menyebut opini semacam itu sebagai "menyesatkan", namun dalam waktu yang sama ia mengakui bahwa dalam konteks politik, narasi yang menyesatkan pun bisa sangat efektif, terutama apabila disebarkan melalui jaringan yang terorganisasi dan menyasar segmen publik yang sudah memiliki praduga negatif terhadap pemerintahan.

Boni pun mengidentifikasi dua entitas yang paling rentan dirugikan dengan isu pergantian Kapolri, yakni Presiden Prabowo secara personal sebagai pemimpin eksekutif, dan institusi penegakan hukum Indonesia secara keseluruhan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut