Deretan Partai Oposisi Sejak Orde Lama Hingga Sekarang, PKS yang Terlama
- Dok. PKS
Jakarta, VoxPop – Partai oposisi dalam sebuah sistem pemerintahan demokratis adalah partai politik yang tidak tergabung dalam koalisi atau aliansi pemerintahan. Mereka berfungsi sebagai pengawas dan penyeimbang bagi pemerintah yang berkuasa, dengan memberikan kritik, saran, dan alternatif kebijakan.
Partai oposisi memastikan bahwa pemerintah menjalankan tugasnya dengan transparan dan akuntabel, serta untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Partai oposisi juga berfungsi sebagai suara bagi kelompok masyarakat yang mungkin tidak terwakili oleh pemerintah, sehingga demokrasi tetap sehat dan inklusif.
Partai oposisi memiliki kedudukan sama terhormatnya dengan partai yang tergabung dengan koalisi, karena mereka memainkan peran vital dalam proses demokrasi. Sejak pemerintahan Orde Lama hingga sekarang, partai oposisi telah mengalami banyak perubahan. Berikut deretan partai oposisi dari masa ke masa!
1. PSI, Masyumi, dan Murba (Orde Lama)
Kampanye Masyumi 1955 (Dok. Historia.id)
- vstory
Partai Sosialis Indonesia (PSI), Masyumi, dan Murba menjadi oposisi saat Orde Lama. Pada masa itu, mereka cenderung memiliki pandangan politik sosialis-kiri, yang membuat mereka mengambil posisi sebagai oposisi karena menentang beberapa kebijakan yang dianggap merugikan Indonesia.
Partai Masyumi dan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) yang dibentuk oleh Tan Malaka akhirnya dibubarkan oleh Sukarno. Kedua partai ini memiliki visi dan misi yang berbeda dan keduanya dianggap sebagai ancaman bagi kestabilan pemerintahan Sukarno.
Sedangkan PSI bubar pada 17 Agustus 1960 karena dituduh terlibat dalam Pemberontakan Rakyat Revolusioner Indonesia (PRRI) di Sumatra. Perpecahan internal yang terjadi setelah Perjanjian Linggarjati pada November 1946 juga berkontribusi pada kelemahan partai.
2. PDI dan PPP (Orde Baru)
Pada masa Orde Baru, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berperan sebagai oposisi. Saat itu, PDI berjuang untuk mencapai keberhasilan dalam setiap pemilu selama masa Orde Baru, meskipun menghadapi partai yang lebih kuat yaitu Golkar yang didukung oleh pemerintah dan militer.
PPP, yang merupakan hasil gabungan dari empat partai keagamaan, juga berperan sebagai oposisi pada masa Orde Baru. Partai yang dikenal sebagai "Partai Ka'bah" ini melibatkan fenomena "Mega Bintang," di mana simpatisan PDI pro-Megawati bergabung dengan PPP untuk melawan Golkar pada masa kampanye Pemilu 1997. Meskipun PPP tidak berhasil memenangkan pemilu tersebut, partai ini tetap menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia.
