KY Ungkap Dampak Efisiensi Anggaran dari Pemerintah: Sejumlah Laporan Potensi Mandek

Gedung Komisi Yudisial
Sumber :
  • VoxPop/Rahmat Fatahillah Ilham

Jakarta, VoxPop – Komisi Yudisial (KY) menyampaikan sejumlah laporan pasti tidak akan bisa langsung ditindaklanjuti atau mandek, buntut adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Saat ini, sudah ada ribuan laporan dan tembusan yang sudah diterima sejak tahun 2024.

img_title Harga Pertamax Turun, Anggota DPR: Pemerintah Pastikan Kebijakan Harga BBM Ikuti Pasar Global

"Hingga Januari 2025, KY telah menerima 107 laporan dan 75 tembusan, serta 87 permohonan pemantauan persidangan," kata Anggota KY dan Juru Bicara KY, Mukti Fajar Nur Dewata kepada wartawan dikutip Kamis, 13 Februari 2025.

Gedung Komisi Yudisial

Photo :
  • VoxPop/Rahmat Fatahillah Ilham
img_title Qodari: Pemerintah Pastikan Peringatan HUT ke-81 RI Lebih Dekat dengan Rakyat

Namun begitu, KY tetap bakal mengupayakan layanan publik di tengah efisiensi anggaran. Adapun, layanan publik yang dimaksud meliputi penerimaan laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH), pemantauan persidangan, dan advokasi hakim.

"Namun, untuk sementara penanganan laporan masyarakat, pemantauan persidangan, dan advokasi hakim belum sepenuhnya dapat ditindaklanjuti," kata Mukti.

img_title Harga Pertamax Turun, Pemerintah Dinilai Jaga Keseimbangan Energi dan Investasi

Mukti menegaskan, KY masih menunggu kebijakan penambahan anggaran dari pemerintah. Dia menilai suntikan anggaran masih diperlukan guna menopang kerja KY.

"Saat ini, KY telah berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan dan DPR untuk memperoleh penambahan anggaran agar dapat melakukan pelayanan kepada masyarakat secara optimal," beber Mukti.

Sebelumnya, Ketua Komisi Yudisial (KY), Amzulian Rifa’i mengklaim bahwa kondisi keuangan lembaganya cukup memprihatinkan.

Disebutkan, bahwa anggaran operasional harian saja sudah mulai terganggu, bahkan gaji pegawai hanya cukup hingga Oktober 2025. Dia juga mengatakan, mulai bulan depan BBM untuk kendaraan dinas KY harus dibeli sendiri.

"Karena gaji pegawai saja itu hanya cukup sampai bulan Oktober. Saya tadi dapat kabar BBM kami mulai bulan depan beli sendiri," kata Amzulian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin, 10 Februari 2025.

Amzulian menambahkan, akibat efisiensi anggaran itu pula, KY menghadapi kendala dalam melaksanakan tugas seleksi calon Hakim Agung.

"Tugas utama KY salah satunya adalah menyeleksi Hakim Agung, namun saat ini kami harus mengikuti kebijakan negara, termasuk melakukan efisiensi anggaran,” kata Amzulian. 

Amzulian memperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk proses seleksi Hakim Agung berkisar antara Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar. Namun, dengan keterbatasan dana saat ini bahwa seleksi belum bisa dilakukan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut