Persentase Keterlibatan Perempuan dalam Pemerintahan Indonesia Masih Jadi Sorotan
- VoxPop/Trisya Frida
“Mungkin yang dihadapi adalah adanya stereotip bahwa perempuan itu, utamanya di dunia politik, itu kadang dianggap sebagai pelengkap saja. Tetapi ketika perempuan dijadikan sebagai sosok pemimpin, pengambil keputusan, ini lalu diragukan. Diragukan kapabilitasnya, diragukan apakah sudah cukup berpengalaman atau belum,” jelas Putri Zulkifli.
Ia juga menggarisbawahi bahwa dunia politik masih sangat identik dengan nilai-nilai maskulin, sehingga perempuan harus menghadapi standar ganda. Meski begitu, ia percaya bahwa perempuan memiliki kompetensi dan kapasitas untuk menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan.
“Apapun tantangannya, kita sebagai pemimpin perempuan tidak boleh menjadikannya sebagai batasan. Kita juga memiliki kapabilitas, memiliki kompetensi, memiliki kondisi memberikan yang terbaik di tiga perempuan,” tegasnya.
Acara WEC 2025 ini diharapkan bukan hanya menjadi konferensi satu hari, tetapi juga menjadi gerakan berkelanjutan yang membuka ruang pelatihan, mentoring, dan kolaborasi bagi perempuan dari berbagai daerah dan latar belakang.
“Harapan kami dengan Women Empowerment Conference yang kami adakan ini akan menjadi salah satu motor penggerak peningkatan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di negeri Indonesia,” tutup Putri Kus.
