Koalisi Sipil Kritik Rekrutmen Puluhan Ribu Tamtama: Cederai Reformasi dan Menyalahi Jati Diri TNI

Ilustrasi Prajurit TNI
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Jakarta, VoxPop – Koalisi Masyarakat Sipil mengkritik keras rencana rekrutmen puluhan ribu calon Tamtama TNI AD berupa Batalyon Teritorial Pembangunan. Rencana rekrutmen dikritik karena dilakukan bukan untuk kesiapan perang melainkan jadi pasukan ketahanan pangan hingga pelayan kesehatan.

img_title Menhan Sjafrie Ungkap Kekuatan Tempur TNI Terpenuhi, Mulai dari Alutsista hingga Amunisi

"Koalisi memandang rencana rekrutmen tersebut sudah keluar jauh dari tugas utama TNI sebagi alat pertahanan negara," demikian isi siaran pers Koalisi Masyarakat Sipil yang dikutip pada Rabu 11 Juni 2025.

Koalisi Sipil menilai TNI direkrut untuk dilatih jika dalam keadaan mendesak yang mengharuskan adanya perang. Tapi, rekrutan puluhan calon prajurit itu justru akan mengurusi perihal pertanian hingga perkebunan.

img_title TNI Buka Suara Soal Dugaan Prajurit Aniaya Polisi Hingga Tewas di Asrama Brimob Slipi

"TNI direkrut, dilatih, dan dididik untuk perang. Dan, bukan untuk mengurusi urusan-urusan di luar perang seperti pertanian, perkebunan, peternakan, maupun pelayanan kesehatan," lanjut isi keterangan Koalisi Masyarakat Sipil.

Menurut Koalisi Sipil, kebijakan perekrutan itu juga menyalahi tugas utama TNI sebagai alat pertahanan negara. Tugas TNI itu diatur dalam konstitusi dan UU TNI.

img_title Menuju Olimpiade 2028, PBTI dan TNI Siap Sukseskan Asian Taekwondo Open di Jakarta

VoxPop Militer : Pasukan TNI sisir kelompok bersenjata OPM di Papua (ilustrasi)

Photo :
  • VoxPop

Koalisi Sipil menyatakan perubahan lingkungan strategis serta ancaman perang yang semakin kompleks dan modern sebenarnya menuntut TNI untuk fokus. TNI juga dituntut untuk memiliki keahlian spesifik di bidang peperangan. 

"Dalam konteks itu, menempatkan TNI untuk mengurusi hal-hal di luar pertahanan justru akan melemahkan TNI. Dan, membuat TNI menjadi tidak fokus untuk menghadapi ancaman perang itu sendiri. Dan, secara tidak langsung akan mengancam kedaulatan negara," lanjut keterangan koalisi sipil.

Pun, Koalisi Sipil menilai perekrutan dan pelibatan TNI untuk urusan seperti pertanian, perkebunan, peternakan, maupun pelayanan kesehatan adalah bentuk kegagalan. Sebab, untuk menjaga batas demokrasi perlu ada pemisahan antara urusan sipil dan militer. 

Padahal, konstitusi UUD 1945 dan UU TNI telah menetapkan pembatasan terhadap TNI yang jelas-jelas tak memiliki kewenangan mengurus pertanian, perkebunan, peternakan, maupun pelayanan kesehatan. 

"Hal ini tentu mencederai semangat Reformasi TNI yang menginginkan terbentuknya TNI yang profesional dan tidak lagi ikut-ikutan mengurusi urusan sipil," jelas keterangan itu. 

Koalisi sipil pun mendesak Presiden RI Prabowo Subianto dan DPR RI untuk melakukan pengawasan dan evaluasi tentang perekrutan dan pelibatan TNI yang berlebihan tersebut. Cara iti dikritik telah menyalahi jati diri TNI sebagai alat pertahanan negara sesuai amanat konstitusi dan UU TNI.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut