KSP Tegaskan Pemerintah Tak 'Buta' soal Kasus Keracunan MBG

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari memastikan bahwa pemerintah tidak menutup mata soal maraknya kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

img_title Kepala BGN Ungkap Rencana Rekrut Chef hingga Catering untuk Masak Menu MBG

Ia menjelaskan bahwa, Badan Gizi Nasional (BGN) sudah mencatat data kasus keracunan program MBG. Tak hanya BGN, lanjut dia,  Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) turut membantu dalam pendataan keracunan tersebut.

UMKM binaan BRI jadi pemasok program MBG

Photo :
  • BRI
img_title BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG Paling Banyak Gegara Masak Terlalu Cepat

"Masyarakat harus tahu bahwa pemerintah itu tidak buta dan tuli, alias tone deaf. Betul, dari MBG. Saya punya data yang disiapkan oleh Kedeputian III KSP. Jadi ada data dari tiga lembaga sebagai berikut: BGN mencatat 46 kasus keracunan dengan 5.080 penderita (data per 17 September), Kemenkes 60 kasus dengan 5.207 penderita (data 16 September), dan BPOM 55 kasus dengan 5.320 penderita (data per 10 September 2025)," kata Qodari di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 22 September 2025. 

Di sisi lain, Qodari meminta masyarakat tak memperdebatkan perbedaan angka antarlembaga. Menurutnya, tiap angka yang dicatat sudah sinkronisasi antarlembaga.

img_title Purbaya: Realisasi Anggaran MBG Capai Rp 101,1 Triliun hingga Akhir Kuartal II-2026

"Nah, tolong jangan lihat beda angkanya. Jangan diadu-adu antar K/L ya. Tapi lihat bahwa masalah yang sama dicatat oleh tiga lembaga, bahkan oleh BGN sendiri," ujar Qodari.

"Angkanya sebenarnya sinkron, sama-sama di sekitar 5.000 kasus. Dari elemen masyarakat, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang memantau lewat media juga mencatat 5.360 siswa," sambungnya.

Lebih lanjut, Qodari menyebut hasil asesmen BPOM bahwa puncak kasus keracunan terjadi pada Agustus 2025, dengan sebaran terbanyak di Jawa Barat. Penyebab utama antara lain higienitas makanan, suhu dan ketidaksesuaian pengolahan pangan, kontaminasi silang, hingga indikasi alergi pada penerima manfaat.

"Ini contoh bahwa pemerintah tidak tone deaf, tidak buta dan tuli. Pak Mensesneg juga sudah merespons Jumat kemarin, mengakui adanya masalah, meminta maaf, dan akan lakukan evaluasi. Ini saya tambahkan data-datanya," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi mengatakan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang lalai membuat makan bergizi gratis (MBG) hingga menyebabkan keracunan akan dikenakan sanksi.

Hal itu ditegaskan Prasetyo merespons banyaknya kasus murid yang mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut