Riset: Generasi Muda Ingin Ruang Sipil yang Lebih Terbuka dan Inklusif
- Istimewa
“Riset ini juga menemukan variasi aktivisme lintas wilayah: di Indonesia Barat anak muda lebih kritis dan aktif, di Indonesia Tengah cenderung moderat, sementara di Indonesia Timur fokus pada isu lingkungan dan HAM,” ungkap Rahardika melalui pemaparan online.
Namun demikian, riset membuktikan, meski menghadapi banyak tantangan, anak muda tetap memiliki aspirasi terhadap ruang sipil yang ideal. Sebanyak 75,64% responden menginginkan kebebasan berpendapat, 60,59% menuntut perlindungan negara dari diskriminasi, dan 59,01% berharap kebebasan berkumpul secara damai.
“Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda masih berjuang mencari ruang aman dan inklusif untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokratis,” beber Rahardika.
Sebagai informasi, mayoritas responden dalam riset ini adalah perempuan dari wilayah tengah (61,9%) dan barat (55,4%), sementara laki-laki lebih banyak di wilayah timur (45,1%). Responden non-biner dan beragam gender paling menonjol di wilayah barat. Dari segi pendidikan, 49,1% menempuh jenjang SMA dan 44,8% sarjana/D4.
Diketahui, secara eksperimental, penelitian ini mengaitkan tingkat pendidikan tinggi di Indonesia Barat dengan meningkatnya literasi hak-hak sipil serta keterlibatan aktivisme yang mencapai 58%. Interaksi antara pendidikan dan aktivisme disebut menjadi faktor munculnya sikap skeptis terhadap elit politik.
