Pangkas Ketergantungan Impor LPG, Pemerintah Genjot Jaringan Gas Rumah Tangga

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI M Qodari
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Jakarta, VoxPop – Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan gas (jargas) rumah tangga sebagai strategi besar mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

img_title Qodari: Pemerintah Pastikan Peringatan HUT ke-81 RI Lebih Dekat dengan Rakyat

Kepala Badan Komunikasi (Bakom RI), M Qodari menegaskan program jargas bukan sekadar proyek penyediaan infrastruktur energi. Melainkan juga menjadi solusi atas persoalan tingginya impor LPG akibat keterbatasan produksi dalam negeri.

Dia menuturkan, kebutuhan LPG nasional untuk memasak mencapai sekitar lima juta metrik ton setiap tahun. Namun, kemampuan produksi domestik baru mencapai sekitar 1,4 juta ton sehingga sebagian besar kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.

img_title Qodari soal Survei Kepuasan Publik ke Prabowo Turun: Penting Bagi Pemerintah untuk Koreksi

“Teman-teman untuk diketahui, bahwa kebutuhan gas kita untuk memasak itu satu tahun lima juta metrik ton, tetapi produksi dalam negeri adalah 1,4 juta ton, ya, kalau ini kita bicara LPG. Artinya, yang bisa diproduksi hanya sekitar 30 persen kurang, dan karena itu sisanya diimpor,” ujar Qodari dalam konferensi pers, Rabu, 5 Agustus 2026.

Kata Qodari, jaringan gas rumah tangga memanfaatkan gas bumi yang berbeda dengan LPG. Jika LPG tersusun dari propana dan butana, jargas menggunakan gas bumi berupa metana dan etana yang cadangannya jauh lebih melimpah di Indonesia.

img_title Banyak Acara Internasional Digelar di Tanah Air, Qodari: Jadi Bukti Indonesia Negara yang Aman dan Nyaman

“LPG itu materinya berbeda dengan jargas, karena jargas ini adalah gas bumi. Gas bumi ini adalah metana dan etana, sementara LPG adalah propana dan butana,” ungkap dia.

Qodari menilai, kondisi tersebut menjadi alasan kuat pemerintah mengalihkan pemanfaatan energi rumah tangga ke gas bumi karena sumber dayanya tersedia di dalam negeri.

“Memang ketersediaan dalam negeri kita, potensi alam kita itu untuk gas alam, ya, metana dan etana ini jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan LPG. Mungkin sekitar tiga per empat dari ketersediaan gas di Indonesia adalah kategori gas bumi atau metana dan etana, sehingga sebetulnya memang yang potensial itu adalah metana dan etana,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui pengembangan gas bumi masih menghadapi tantangan utama pada aspek distribusi. Karena itu, pembangunan jaringan gas menjadi instrumen penting agar pasokan gas bumi dapat langsung dinikmati masyarakat.

“Walaupun memang ada tantangan dalam distribusi. Nah, ini yang coba diatasi dengan antara lain jaringan gas,” pungkas Qodari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut