Adidaya Institute Optimis Sudaryono Mampu Perbaiki Program MBG
- dok. istimewa
Menurut Ikeu, meski secara nasional, Indonesia menunjukkan tren perbaikan prevalensi stunting hingga mencapai 19,8 persen pada tahun 2024, namun tantangan masih tetap muncul karena prevalensi underweight kembali meningkat menjadi 16,8 persen. Hal ini, ungkapnya, menunjukkan bahwa persoalan gizi belum sepenuhnya terselesaikan dan memerlukan intervensi yang lebih komprehensif.
Ikeu menambahkan program MBG memang dirancang untuk mencapai empat tujuan utama. Yakni meningkatkan status gizi masyarakat, memperkuat kapasitas pendidikan, mengurangi kemiskinan, serta mendorong pembangunan ekonomi.
“Program ini diposisikan sebagai instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata dia.
Dalam paparannya, Ikeu juga mengidentifikasi sejumlah tantangan implementasi di tingkat pusat maupun daerah. Di tingkat pusat, diperlukan penyempurnaan penetapan penerima manfaat yang lebih tepat sasaran melalui sinkronisasi dengan data stunting, kemiskinan, dan sebaran SPPG. Di tingkat daerah, tantangan utama meliputi lemahnya koordinasi antar instansi, belum optimalnya pelaksanaan tugas kelembagaan sesuai Perpres Nomor 115 Tahun 2025. Hingga penguatan keamanan pangan, sanitasi, rantai pasok, pengelolaan SPPG, serta peningkatan kapasitas SDM.
“Sebagai agenda perbaikan kebijakan, Ikeu menyampaikan tiga tahapan prioritas untuk MBG. Dalam jangka pendek difokuskan pada penguatan tata kelola dan digitalisasi. Jangka menengah diarahkan pada penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas SDM, integrasi program dalam perencanaan daerah, serta monitoring berbasis data. Sementara dalam jangka panjang, fokus diarahkan pada keberlanjutan pendanaan dan evaluasi dampak untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia,” ujarnya.
