Selain LPDP, Elda Putri Rahardini Ternyata Pernah Dapat Beasiswa dari Pemerintah Jepang
- Kolase VoxPop/ Instagram @erudarahaadini
VoxPop – Nama Elda Putri Rahardini belakangan menjadi sorotan setelah komentar yang ditulisnya terkait mendiang Yurizal Tri Chaerawan memicu kecaman publik. Namun, di balik kontroversi tersebut, sosok Elda ternyata memiliki rekam jejak akademik yang cukup panjang.
Tak hanya tercatat sebagai penerima beasiswa LPDP, Elda juga pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Negeri Sakura.
Elda diketahui memperoleh beasiswa Monbukagakusho atau MEXT saat menempuh pendidikan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Kobe University, Jepang. Berdasarkan profil profesional yang tersedia, ia menjalani studi dengan fokus Cardiovascular Science atau ilmu kardiovaskular pada 2015 hingga 2019.
Riwayat tersebut membuat perjalanan akademik Elda menjadi perhatian di tengah polemik yang sedang menimpanya. Sebab, sebelum melanjutkan pendidikan ke Jepang dan kemudian mengikuti pendidikan dokter spesialis, ia telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan kedokteran di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Elda Putri Rahardini Penerima Beasiswa MEXT
Beasiswa MEXT yang pernah diterima Elda merupakan program beasiswa pemerintah Jepang untuk pelajar dan akademisi internasional. Dalam profil pribadinya, Elda mencantumkan status sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho/MEXT selama menjalani pendidikan doktoral di Kobe University.
Kesempatan tersebut membawanya menempuh studi di bidang ilmu kardiovaskular. Selama berada di lingkungan akademik Jepang, Elda juga aktif dalam kegiatan penelitian.
Namanya tercantum dalam sejumlah publikasi ilmiah. Salah satunya merupakan penelitian yang membahas peran FAM13A dalam proses yang berkaitan dengan hipertensi pulmonal serta perubahan seluler. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE pada 2020.
Jejak akademik tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Elda tidak hanya berkaitan dengan praktik kedokteran, tetapi juga penelitian dan pengembangan ilmu kesehatan.
Setelah dari Jepang, Elda Jadi Penerima LPDP
Perjalanan beasiswa Elda ternyata tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di Jepang.
Setelah merampungkan studi doktoralnya, Elda kembali ke Indonesia. Dalam profil pribadinya, ia menyebut dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP untuk pendidikan residensi Ilmu Penyakit Dalam.
Profil profesional Elda di Linkedin juga mencantumkan statusnya sebagai LPDP awardee. Selain itu, ia memiliki pengalaman sebagai dokter umum dan peneliti.
Elda pernah tercatat bekerja sebagai general practitioner di Klinik Rumah Sehat Universitas Gadjah Mada. Ia juga terlibat dalam sejumlah kegiatan penelitian klinis di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Pernah Kuliah Kedokteran di UGM
Sebelum mendapatkan beasiswa MEXT dan melanjutkan pendidikan ke Jepang, Elda menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Berdasarkan profil profesional yang tersedia, Elda menjalani pendidikan Doctor of Medicine (M.D.) di UGM sejak 2008 hingga 2014. Ia disebut menyelesaikan pendidikan tersebut dengan predikat cumlaude.
Ketertarikannya pada penelitian juga telah terlihat sejak masa pendidikan kedokteran. Salah satu karya ilmiah tingkat sarjananya membahas hubungan tahapan hipertensi dengan kadar vascular endothelial growth factor (VEGF) pada pasien dewasa di RSUP Dr. Sardjito.
Dari UGM, perjalanan akademik Elda kemudian berlanjut ke Kobe University. Setelah memperoleh gelar Ph.D., ia kembali menjalani aktivitas profesional dan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Raih Penghargaan di Forum Ilmiah
Selain mencatatkan pengalaman pendidikan di Indonesia dan Jepang, Elda juga memiliki sejumlah rekam jejak di bidang akademik.
Ia tercatat memperoleh penghargaan Best Systematic Review dalam The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) yang berlangsung di Yogyakarta pada 2025.
Elda juga pernah mendapatkan penghargaan presentasi dalam forum ilmiah respirasi tingkat Asia Pasifik.
Sebelum kontroversi di media sosial mencuat, aktivitas tersebut membuat Elda lebih banyak dikenal dalam lingkungan akademik dan kedokteran.
Komentar kepada Yurizal Berujung Kecaman
Nama Elda kemudian ramai diperbincangkan setelah komentarnya terhadap unggahan Yurizal Tri Chaerawan viral di media sosial.
Sebelumnya, Yurizal mengungkapkan pengalamannya menunggu berjam-jam untuk memperoleh ruangan perawatan. Ia menuliskan keluhannya melalui Threads.
“8 jam belum dapat ruangan, gamau spill RSnya soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal pada akun Threads miliknya.
Unggahan tersebut kemudian mendapat berbagai tanggapan, termasuk dari Elda. Melalui akun media sosial @erudarahaadini, ia menulis:
“PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulis Elda melalui akun @erudarahaadini.
Komentar tersebut kemudian menuai kritik dari warganet. Sorotan publik semakin besar lantaran Elda diketahui sedang mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
RSUP Dr. Sardjito selanjutnya mengambil langkah menonaktifkan Elda dari kegiatan pendidikan terkait polemik komentar tersebut.
Elda Akhirnya Minta Maaf
Di tengah derasnya kritik, Elda menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Yurizal dan masyarakat. Ia mengakui komentar yang ditulisnya tidak pantas dan tidak menunjukkan empati yang semestinya dimiliki tenaga kesehatan.
“Saya Elda Putri Rahardini. Dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas.Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati. Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi almarhum saat mencari penanganan medis,” tulis Elda Putri Rahardini pada akun media sosialnya, @erudarahaardini.
Elda juga mengaitkan permintaan maaf tersebut dengan tanggung jawabnya sebagai dokter dan penerima beasiswa LPDP.
"Sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, saya seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empat yang tinggi kepada siapapun. Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP,” jelasnya.
Kini, rekam jejak pendidikan Elda Putri Rahardini kembali menjadi perhatian. Ia diketahui pernah menempuh pendidikan kedokteran di UGM, melanjutkan Ph.D. di Kobe University dengan beasiswa MEXT dari pemerintah Jepang, serta kemudian tercatat sebagai penerima LPDP untuk pendidikan residensi Ilmu Penyakit Dalam.
