Jenderal Tito Karnavian dan Dua Perintah Presiden Jokowi
- REUTERS/Darren Whiteside
Akan saya serahkan ke tim untuk dikaji. Saya pikir perwira ke atas. Mungkin pati, lalu pamen.
Perburuan Santoso?
Itu tetap target utama kami. Perburuan itu enggak gagal. Sejak ada operasi Camar, Tinombala kan tidak ada serangan lagi. Mereka tertekan. Dari 47 orang jadi tinggal 21. Itu operasi efektif.
Penangkapan Santoso itu masalah medan, matter of time saja. Baik yang bersangkutan tertangkap, hidup atau mati, atau pakai cara soft karena mereka harus memahami bahwa operasi bikin masyarakat tidak nyaman. Saudara-saudara itu saya harap turun gunung, menjalani proses hukum, bukan menyerah ya.
Soal perbaikan pelayanan kepada masyarakat?
Nanti akan dibuatkan sistem berbasis IT sehingga pertemuan masyarakat dan Polri tidak langsung. Dengan gadget bisa melapor, call center. Lalu ruang pelayanan publik dibuat sedemikian rupa agar mirip bank. DKI Jakarta saja bisa, di keluarahan pelayanan sekarang bagus, petugas humanis, layanan prima, itu yang kami inginkan.
Pengganti di BNPT?
Saya sudah bicarakan dengan internal, termasuk dengan beberapa pejabat yang kompeten. Saya tidak mau sebut nama. Biasa tiga nama. Saya harap secepat mungkin.
Setelah saya selesai ini, sertijab selesai, otomatis sudah full swing kewenangan yang ada, pekan depan kami ajukan namanya.
Soal ISIS mengirimkan ancaman?
Kita harus waspada sama ISIS. Di Indonesia memang sudah ada jaringan pendukungannya. Sepanjang ISIS masih eksis di Timur Tengah, konflik ada, kita menerima tumpahan-tumpahannya saja. Kita tekan sedemikian rupa jaringan di Indonesia. Dan di region Asia, kita akan bekerja sama dengan counterpart negara lainnya.
Itu memang tidak akan menyelesaikan masalah. Sejagonya intelijen, tetap ada potensi lolos. Lihat Amerika kebobolan 9/11, Perancis bisa bobol, London bobol. Kemungkinan itu bisa terjadi. Kami berharap di tingkat Asia Tenggara, terutama intelijen, kerjasama dipererat lalu komunitas internasional bisa menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
