Google AI Pecat Ratusan Pekerja, Isu Upah dan Serikat Buruh Jadi Sorotan

Kantor Pusat Google.
Sumber :
  • Instagram/@jnthe1

Jakarta, VoxPop – Industri kecerdasan buatan tengah mengalami perkembangan pesat, termasuk di perusahaan raksasa teknologi seperti Google. Namun, di balik inovasi yang terus dikejar, kisah para pekerja kontrak yang berkontribusi besar dalam melatih dan memperbaiki sistem AI, justru mengalami nasib lain. 

img_title Kemenperin Ungkap Penyebab Ancaman PHK 1.500 Pekerja Garmen di Jateng, Bukan karena Serbuan Impor

Ratusan pekerja yang selama ini menjadi bagian dari proses pengembangan produk-produk AI Google seperti Gemini dan AI Overviews, kini menghadapi kenyataan pahit, yakni pemutusan hubungan kerja secara mendadak.

Fenomena ini menyoroti ketegangan antara teknologi, tenaga kerja, dan korporasi besar. Di satu sisi, AI semakin dibutuhkan untuk menghadirkan produk yang cerdas dan relevan bagi pengguna. 

img_title Angka PHK Meningkat, OJK Pastikan Belum Ada Dampak Sistemik ke Industri Dana Pensiun

Di sisi lain, pekerja manusia yang mengajarkan “akal sehat” kepada sistem tersebut justru menghadapi kondisi kerja yang tidak menentu. Perselisihan soal upah, keamanan kerja, hingga upaya pekerja untuk berserikat, kini menjadi sorotan global.

Lebih dari 200 kontraktor yang bekerja mengevaluasi dan memperbaiki produk AI Google, diberhentikan tanpa peringatan dalam sedikitnya dua gelombang PHK bulan lalu. Langkah ini terjadi di tengah konflik berkelanjutan mengenai upah dan kondisi kerja. 

img_title Terkena PHK? Ini 21 Ide Bisnis yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan Baru, Bisa Dimulai dengan Modal Minim

Dalam beberapa tahun terakhir, Google telah mengalihdayakan pekerjaan rating AI, termasuk mengevaluasi, mengedit, atau menulis ulang respons chatbot Gemini agar terdengar lebih manusiawi, kepada ribuan kontraktor yang direkrut perusahaan GlobalLogic milik Hitachi serta penyedia outsourcing lain.

Kantor Google.

Photo :
  • Politico

Pekerja menuding bahwa pemutusan kerja ini juga merupakan upaya membungkam protes. “Saya baru saja diputus begitu saja,” kata Andrew Lauzon, yang menerima email pemutusan kerja pada 15 Agustus, sebagaimana dikutip dari Wired, Selasa, 16 September 2025.

“Saya bertanya alasannya, dan mereka bilang pengurangan proyek, apa pun maksudnya,” sambungnya. 

Andrew sendiri bergabung dengan GlobalLogic pada Maret 2024, dengan tugas mulai dari menilai keluaran AI hingga menyusun berbagai prompt untuk model. “Bagaimana kami bisa merasa aman dalam pekerjaan ini ketika kami tahu bahwa kami bisa diberhentikan kapan saja?” ungkapnya.

Kekhawatiran semakin besar karena para pekerja menduga sistem AI justru sedang dilatih untuk menggantikan mereka. Dokumen internal yang tersebar juga menunjukkan GlobalLogic menggunakan penilaian manusia untuk melatih sistem Google AI yang nantinya dapat melakukan penilaian secara otomatis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut