Purbaya Godok RUU Redenominasi Rupiah, Intip 12 Negara yang Pernah Lakukan Reformasi Mata Uang Besar-Besaran

Ilustrasi Uang Rupiah
Sumber :
  • pixabay.com/WonderfulBali

Jakarta, VoxPop – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali membuat gebrakan besar, yakni wacana perubahan harga mata uang alias redenominasi. Langkah pemerintah Indonesia ini menyusul sejumlah negara yang telah melakukan penyederhanaan mata uang bahkan beberapa di antaranya tercatat sebagai redenominasi terbesar di dunia. 

img_title Purbaya Pastikan Anggaran Sekolah Rakyat dari APBN Berjalan Optimal

Dikutip dari berita VoxPop, Purbaya tengah menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) redenominasi Rupiah yang dicanangkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025-2029, yang ditetapkan 10 Oktober 2025 dan mulai diundangkan pada 3 November 2025. Dalam baleid tersebut dijelaskan bahwa urgensi pembentukan RUU Redenominasi sebagai langkah efisiensi perekonomian. 

Fenomena redenominasi bukan hal baru di dunia. Sejumlah negara telah melakukannya dengan alasan yang beragam, mulai dari hiperinflasi ekstrem, perang, hingga reformasi ekonomi. Melansir dari FXSSI, berikut 12 negara dengan redenominasi paling signifikan sepanjang sejarah.

img_title Namanya Masuk Bursa Calon Gubernur BI Pengganti Perry, Begini Respons Purbaya

1. Hungaria

Hungaria mencatat sejarah sebagai negara dengan redenominasi terbesar di dunia pada 1946. Kala itu, mata uang pengő yang terpuruk akibat hiperinflasi pasca-Perang Dunia II digantikan oleh forint dengan nilai tukar fantastis, 400 optiline pengő menjadi 1 forint. 

img_title Purbaya Ungkap Rapat Koordinasi KSSK dengan Danantara, Simak Paparannya

Nilai uang terus merosot hingga harga barang melonjak lima kali lipat setiap hari. Pemerintah akhirnya menerbitkan unit baru bernama adopengő sebelum akhirnya menetapkan forint yang hingga kini menjadi mata uang resmi dan relatif stabil.

2. Zimbabwe

Zimbabwe dikenal sebagai negara dengan hiperinflasi ekstrem yang memaksa tiga kali redenominasi antara 2006 hingga 2009. Pemerintah menukar 10 septiliun dolar lama menjadi satu dolar baru, setelah nilai tukar melambung hingga 79,6 miliar persen per bulan. 

Krisis ini membuat masyarakat beralih menggunakan mata uang asing seperti dolar AS dan rand Afrika Selatan. Setelah sempat menonaktifkan dolar Zimbabwe, negara itu baru mengembalikannya pada 2019 dengan inflasi yang masih tinggi akibat kekeringan dan pandemi.

3. Yunani

Setelah terbebas dari pendudukan Nazi Jerman pada 1944, Yunani melakukan redenominasi besar-besaran dengan memangkas 50 miliar kali nilai drachma. Hiperinflasi kala itu mencapai 3×10¹⁰ persen sehingga uang bernilai 100 miliar drachma hanya mampu membeli kebutuhan pokok. Meski pemerintah berhasil menekan inflasi bertahun-tahun kemudian, drachma kembali direvaluasi pada 1954, dan akhirnya digantikan oleh euro pada 2001.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut