Tren Microretirement Makin Populer di Kalangan Gen Z, Apa Dampaknya untuk Masa Depan Karier?
- Pexels.com
Jakarta, VoxPop – Dunia kerja mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan pekerjaan, tuntutan digital, dan meningkatnya kasus burnout membuat banyak pekerja mulai mempertanyakan pola hidup yang hanya fokus pada karier nonstop.
Sebagian orang kini memilih strategi baru. Bukan hanya cuti pendek, tetapi mengambil jeda panjang secara berkala untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Fenomena ini semakin dikenal sebagai microretirement.
Meningkatnya harapan hidup dan masa bekerja yang semakin panjang membuat microretirement terasa lebih masuk akal. Banyak orang menilai bahwa menunggu pensiun di usia tua untuk menikmati hidup bukan lagi pilihan realistis.
Mengambil “mini pensiun” di tengah karier dianggap sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup, kesehatan mental, hingga menemukan kembali motivasi kerja. Meski begitu, seperti semua keputusan besar, microretirement juga memiliki konsekuensi finansial dan profesional yang tidak bisa diabaikan.
Apa Itu Microretirement?
Ilustrasi liburan.
- Pexels
Sebagaimana dilansir dari The Week, Senin, 17 November 2025, microretirement merupakan praktik mengambil jeda panjang dari pekerjaan, biasanya beberapa minggu sampai beberapa bulan, dengan rencana kembali bekerja setelah masa istirahat berakhir.
Waktu ini digunakan untuk berlibur, mengejar hobi, mengerjakan proyek pribadi, atau sekadar rehat dari rutinitas yang melelahkan. Berbeda dengan cuti tahunan, microretirement sepenuhnya tidak dibayar dan dilakukan secara sengaja sebagai bentuk pemulihan.
Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang resign lebih dulu dan baru melamar pekerjaan kembali setelah siap. Ada juga yang membuat kesepakatan dengan perusahaan untuk mengambil unpaid break secara berkala.
Pemilik usaha pun bisa menghentikan operasi bisnis sementara waktu demi menjalani microretirement. Fenomena ini berkembang karena tingkat keterikatan pekerja terhadap pekerjaan semakin rendah.
Laporan Gallup menunjukkan hanya 21 persen pekerja global yang merasa engaged pada 2024. Generasi Z menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsinya karena mereka menempatkan work-life balance sebagai prioritas utama.
Selain itu, banyak yang menilai bahwa melakukan perjalanan dan kegiatan petualangan lebih ideal dilakukan selagi masih muda dan sehat.
Haruskah Anda Mencobanya?
Sejatinya, jeda panjang dari pekerjaan bukan hal baru. Akademisi dan pekerja teknologi sudah lama mengenal sabbatical. Namun, para ahli melihat meningkatnya usia bekerja membuat microretirement semakin penting.
