Sejarah Kelam Jumat Hitam
Jakarta, VoxPop – Black Friday atau Jumat Hitam punya sejarah panjang. Dari istilah kelam yang merujuk pada krisis ekonomi, kini menandai ajang belanja besar-besaran.
Namun, di balik diskon yang menggiurkan, apa sisi gelapnya? Jelang tengah malam, di depan pintu kaca sebuah toko elektronik puluhan orang berdiri menanti dalam dingin.
Perangkat atau gawai/gadget mereka bersiap menghitung mundur. Di dalam toko, deretan barang elektronik, mulai dari televisi, tablet hingga konsol permainan menanti serbuan pengunjung.
Saat pintu terbuka, sorak-sorai meledak, orang-orang berebut memasuki toko, keranjang belanja bertabrakan satu sama lain, keadaan menjadi kacau, lorong dan kasir penuh sesak.
Black Friday telah tiba, hari yang ditunggu pemburu barang diskonan meski termasuk barang barang tersebut kerap tidak mereka perlukan.
Agar tidak ada yang melewatkan hari dengan tawaran istimewa ini, para penal barang pun memperpanjang hari ini jadi seminggu penuh dan menyebutnya sebagai Black Week.
Meski demikian hari spesial ini datang dengan sejarah panjang yang kelam, istilah Jumat Hitam awalnya berasal dari dunia keuangan, seperti dikutip dari DW, Jumat, 28 November 2025.
Sejarah bursa saham
Jumat Hitam pertama terjadi di Bursa Saham New York pada 24 September 1869. Dua spekulan, Jay Gould dan James Fisk, mencoba memanipulasi pasar emas untuk menaikkan harga.
Ketika pemerintah AS turun tangan dan menjual cadangan emas secara besar-besaran, harganya tiba-tiba jatuh.
Ribuan investor kehilangan kekayaan, pasar saham pun ‘ambruk'. Hari itu pun dikenal sebagai Black Friday dalam sejarah keuangan.
Black Friday di Eropa sebenarnya terjadi di hari Kamis, 24 Oktober 1929, saat terjadi kolaps di pasar saham New York, Wallstreet, peristiwa pemicu Great Depression.
Penjualan saham panik secara besar-besaran terjadi - membuat harga saham jatuh. Di Eropa, hari sudah memasuki Jumat, sehingga hari itu disebut sebagai "Jumat Hitam”.
Pada Senin berikutnya, harga saham sedikit pulih, untuk kemudian terhempas hancur pada hari Selasa berikutnya, yang dikenal sebagai Black Tuesday.
Hari itu kehancuran total terjadi, dalam situasi panik lebih dari 16 juta saham berpindah kepemilikan, mencatat rekor sejarah. Bursa AS akhirnya benar-benar runtuh, jutaan orang kehilangan tabungan mereka.
