Cari Kerja Makin Sulit! Pria Lulusan S3 Ini Kirim Ratusan Lamaran tapi Tetap Tak Ada Panggilan Interview

Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Jakarta, VoxPop – Mencari kerja di 2026 semakin terasa menantang, bahkan bagi mereka yang datang dengan gelar pendidikan tinggi dan pengalaman akademik panjang. Pasar tenaga kerja yang melambat, perusahaan yang menahan perekrutan, serta biaya hidup yang terus meningkat membuat proses mencari kerja menjadi perjalanan panjang penuh ketidakpastian. 

img_title Pemerintah Perlu Gandeng Pelaku Berskala Global Bangun Industri Protein Nasional

Di tengah kondisi ini, kisah para pencari kerja kerap diwarnai kompromi besar, dari pekerjaan di luar keahlian hingga rencana hidup yang harus diubah.

Jeremy Liew menjadi salah satu gambaran nyata situasi tersebut. Pria 31 tahun itu sebelumnya yakin gelar doktor di bidang kimia akan mengamankan masa depannya di industri bioteknologi Boston yang mendunia. Namun lebih dari satu tahun setelah meraih PhD dan melamar lebih dari 500 pekerjaan di berbagai perusahaan di kawasan tersebut, tak ada satu pun tawaran kerja untuknya.

img_title Iklim Bisnis dan Prospek Manufaktur Masih Ekspansif di Kuartal II-2026, BPS Beberkan Datanya

Liew pindah dari New Jersey ke Boston pada 2018 karena tertarik dengan padatnya perusahaan bioteknologi, laboratorium riset, dan universitas ternama di kota tersebut. Seperti banyak mahasiswa pascasarjana lainnya, ia beranggapan bahwa pendidikan lanjutan secara otomatis akan berujung pada karier sains yang stabil dan bergaji tinggi. Harapan itu kini runtuh.

Ilustrasi melamar kerja.

Photo :
  • freepik.com/yanalya
img_title Jumlah Pekerja Naik 522 Ribu Orang, BPS: Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta Orang Per Mei 2026

Setelah lulus tahun lalu, kondisi finansial Liew memburuk. Tabungannya habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ia sempat mendaftar program bantuan pangan pemerintah dan memangkas pengeluaran sebisa mungkin. 

Demi membayar sewa tempat tinggal di pinggiran Boston, ia akhirnya bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan rintisan kecerdasan buatan, pekerjaan yang jauh dari jalur karier yang ia siapkan selama bertahun-tahun.

Di tengah kebuntuan mencari kerja di Amerika Serikat, Liew mulai melirik peluang dari luar negeri. Ia mengaku mendapat pesan dari perekrut bioteknologi di berbagai negara, termasuk China, yang saat ini tengah agresif mengembangkan industrinya.

“Industri ini benar-benar sedang booming di China,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari VN Express, Rabu, 7 Januari 2026. 

Ia menambahkan bahwa banyak orang mendorongnya untuk melamar pekerjaan di luar negeri. Pengalaman Liew mencerminkan perlambatan yang lebih luas di ekosistem bioteknologi Boston. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut