Soroti Kebijakan BI, Ekonom Sarankan 4 Taktik Ala Brazil Demi Selamatkan Rupiah

Ilustrasi rupiah
Sumber :
  • VoxPopnews/Muhamad Solihin

"Kita melihat ada seperti kebijakan fiskal ini dinegasikan. Dibatalkan oleh otoritas moneter. Harusnya bareng-bareng kesana, moneternya kok kayak mau negasikan," ucap Gede Sandra.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 17.960 usai Rilis Defisit Neraca Perdagangan US$450 Juta di Juni 2026

Lebih lanjut, Gede menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor dedolarisasi. Langkah BI memperluas Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan QRIS antarnegara untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS turut memicu reaksi dari pemodal global.

"Aktivitas dedolarisasi ini tidak disukai sebenarnya oleh modal-modal dari negeri dolar, dari Amerika, ya. Jadi ini juga salah satu faktor yang mendorong (pelemahan rupiah)," ungkapnya.

img_title Singgung Masalah Pengawasan, Begini Respons Purbaya soal Isu BI Bakal Masuk Kabinet

Faktor ini diperkuat oleh dinamika global, di mana Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi domestiknya, yang berujung pada penarikan likuiditas secara masif dari negara-negara berkembang.

Sebagai solusi, Gede menyarankan agar otoritas fiskal dan moneter di Indonesia dapat berjalan seirama dengan mengadopsi empat langkah pemulihan yang sukses diterapkan Presiden Brazil Lula da Silva pada 2002-2003. 

img_title BI Sebut Sinergi Bank Sentral dan Pemerintah Bikin Inflasi Juli 2026 Terjaga

Keempat langkah tersebut meliputi: menjaga target surplus keseimbangan primer yang tinggi, melakukan reformasi anggaran melalui efisiensi program, mengurangi ketergantungan terhadap dolar untuk stabilitas jangka panjang, serta menjaga komitmen pengetatan anggaran.

"Dengan empat langkah ini, akhirnya Brazil tahun 2002 lolos. Begitu persepsi pasar membaik, kurs menguat, inflasi turun, barulah kemudian Bank Sentral Brazil menaikkan suku bunga. Gak ada masalah setelah itu," pungkas Gede.

ilustrasi perumahan (dok: BP Tapera)

Survei BI: Harga Properti Residensial Masih Naik pada Kuartal II 2026, Penjualan Rumah Mulai Pulih

Bank Indonesia mencatat harga properti residensial di pasar primer naik 0,69 persen pada kuartal II 2026. Penjualan rumah mulai membaik meski masih kontraksi.

img_title
VoxPop.co.id
7 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut