IHSG Menguat 0,71 Persen ke Level 6.388, Saham Teknologi hingga Properti Jadi Penggerak Utama
- VoxPop/M Ali Wafa
Jakarta, VoxPop – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Hingga penutupan sesi pertama, indeks berhasil naik 0,71 persen di tengah beragam sentimen global dan domestik yang masih menjadi perhatian investor.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 12.00 WIB IHSG berada di level 6.388,48, atau menguat 44,77 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 6.343,71.
Sepanjang perdagangan intraday, indeks bergerak di kisaran 6.347 hingga 6.408, bahkan sempat menembus level psikologis baru sebelum akhirnya bertahan di zona hijau hingga akhir sesi pertama.
Saham Teknologi, Barang Baku, dan Properti Pimpin Penguatan
Penguatan IHSG pada sesi pertama ditopang oleh kenaikan sejumlah sektor utama di Bursa Efek Indonesia.
Mengutip data Refinitiv, sektor teknologi, barang baku, dan properti menjadi sektor dengan penguatan terbesar sepanjang perdagangan.
Sebaliknya, hanya sektor konsumer non-primer dan kesehatan yang masih bergerak di zona merah.
Dari sisi emiten, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama kenaikan IHSG, yaitu:
- TLKM
- ISAT
- BUMI
- AMMN
- MBMA
Kenaikan saham-saham tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks sepanjang sesi pertama.
Nilai Transaksi Capai Rp8,76 Triliun
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga terpantau cukup ramai.
Hingga pukul 12.00 WIB, nilai transaksi mencapai Rp8,76 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 23,50 miliar saham yang diperdagangkan melalui sekitar 1,31 juta transaksi.
Pergerakan saham pada sesi pertama didominasi oleh saham yang menguat.
Rinciannya sebagai berikut:
- 338 saham menguat.
- 247 saham melemah.
- 204 saham bergerak stagnan.
Data tersebut menunjukkan sentimen positif masih mendominasi pasar saham domestik menjelang akhir pekan.
Bursa Asia Mayoritas Bergerak Positif
Dari eksternal, mayoritas bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat dan turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,2 persen, sedangkan Topix menguat 0,29 persen.
Di Korea Selatan, Kospi naik 0,89 persen dan Kosdaq menguat 0,6 persen.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak berbeda dengan terkoreksi sekitar 0,45 persen.
Optimisme investor dipengaruhi harapan tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang dinilai dapat meredakan tekanan harga minyak dunia.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data perdagangan China yang diperkirakan menjadi indikator penting untuk melihat prospek permintaan komoditas global.
Investor Tetap Waspadai Sentimen Global
Meski IHSG menguat, investor masih bersikap hati-hati terhadap sejumlah sentimen global.
Perhatian pasar tertuju pada pergerakan Wall Street yang ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Kondisi itu mencerminkan kehati-hatian investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya non-farm payrolls (NFP), yang dipandang sebagai salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Investor Cermati Cadangan Devisa dan IPO BUMN
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026.
Data tersebut dinilai penting untuk mengukur ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah volatilitas pasar global dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, pasar masih mencermati rencana penawaran umum perdana saham (IPO) sejumlah perusahaan BUMN yang tengah dipersiapkan melalui Danantara.
Beberapa perusahaan yang masuk dalam wacana IPO antara lain:
- Pelindo
- Pegadaian
- Pupuk Indonesia
- Angkasa Pura
Meski demikian, realisasi IPO tersebut baru akan dilakukan setelah proses konsolidasi dan restrukturisasi perusahaan selesai.
Investor Asing Masih Bukukan Net Sell
Di tengah penguatan IHSG, investor asing masih mencatat aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026.
Nilai net sell tercatat mencapai Rp273,5 miliar. Namun demikian, pola transaksi menunjukkan adanya rotasi portofolio.
Investor asing mengurangi kepemilikan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, TLKM, ANTM, dan BRMS.
Di sisi lain, asing meningkatkan akumulasi pada saham DSSA, TPIA, PTRO, serta saham-saham perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni BBRI, BBNI, dan BMRI.
Dengan dukungan penguatan sektor teknologi, barang baku, dan properti serta sentimen positif dari mayoritas bursa Asia, IHSG mampu mempertahankan pergerakan di zona hijau hingga sesi pertama. Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan pada sesi berikutnya.
