Baru Berlaku di Piala Dunia 2026, Miguel Almiron Jadi Korban Pertama Aturan Baru FIFA
- Instagram/albirroja
Lahirnya aturan tersebut tidak terlepas dari insiden yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dan penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam pertandingan Liga Champions beberapa bulan lalu.
Saat itu, Vinicius menuduh Prestianni melontarkan ujaran diskriminatif sambil berbicara dengan mulut tertutup. Meski tuduhan tersebut tidak pernah terbukti secara pasti, kasus itu memicu dorongan agar otoritas sepak bola memperketat aturan terkait komunikasi pemain di lapangan.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya juga menegaskan pentingnya aturan tersebut.
"Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang dirasa rasis, maka dia harus dikeluarkan," ujar Infantino.
Meski demikian, FIFA menekankan bahwa aturan tersebut tidak berlaku untuk percakapan biasa antar pemain. Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menjelaskan bahwa sanksi hanya diterapkan dalam situasi konfrontatif yang berpotensi menyembunyikan ucapan melanggar aturan.
Hingga kini belum ada bukti maupun pernyataan resmi yang menyebut Almiron mengucapkan kata-kata bernada rasis atau ujaran kebencian. Namun, tindakan menutupi mulut dalam situasi konfrontasi sudah dianggap cukup untuk dikenai hukuman berdasarkan regulasi terbaru.
Terlepas dari kontroversi tersebut, Paraguay tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir berbunyi. Gol cepat Matias Galarza pada menit kedua menjadi penentu kemenangan 1-0 atas Turki.
Kemenangan itu menjaga peluang Paraguay untuk lolos ke babak gugur. Namun, Almiron dipastikan harus absen pada laga terakhir fase grup melawan Australia pada Jumat 26 Juni 2026 mendatang akibat kartu merah yang diterimanya.
