Mengenal LVAD, Alat Bantu Jantung Terkecil yang Buka Peluang Baru Pengobatan Gagal Jantung
- U-Report
VoxPop –Gagal jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sehingga dapat menyebabkan berbagai gangguan pada fungsi organ. Penyakit ini bersifat progresif dan dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Di Indonesia, gagal jantung masih menjadi salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Berdasarkan Global Burden of Disease (GBD) 2019, prevalensi gagal jantung di Indonesia mencapai sekitar 900-1.000 kasus per 100.000 penduduk, dengan tingkat kematian sekitar 34,1 persen.
Seiring berkembangnya penanganan terhadap pasien gagal jantung, berbagai metode pengobatan baru terus dikembangkan untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas pasien. Salah satunya adalah penggunaan teknologi alat bantu jantung. Baru-baru ini, Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan implantasi pertama Left Ventricular Assist Device (LVAD) terkecil dan teringan di dunia.
Keberhasilan ini dinilai membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang selama ini memiliki pilihan terapi sangat terbatas akibat sulitnya memperoleh donor jantung maupun tenaga ahli transplantasi.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengatakan teknologi LVAD menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis.
"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar di RSCM, Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026.
Menurutnya, keberhasilan tim RSCM membuktikan bahwa Indonesia mampu menguasai teknologi medis berkelas dunia. Penguasaan teknologi tersebut tidak berhenti pada satu tim, tetapi menjadi awal transfer pengetahuan kepada lebih banyak tenaga kesehatan di Indonesia.
"Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," katanya.
Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangannya. Lantaran hal itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.
"Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan," ujarnya.
Ia bahkanberharap pasien dari negara lain, termasuk Singapura dan Malaysia, kelak datang ke Indonesia untuk memperoleh layanan implantasi LVAD.
"Kalau teknologinya sudah terbukti berhasil di Indonesia, mengapa pasien dari negara lain tidak datang ke sini? Ini menjadi peluang besar bagi layanan kesehatan nasional," katanya.
Sebagai informasi, LVAD adalah sebuah alat bantu pompa jantung otomatis yang dipasang melalui operasi. Alat ini dapat membantu ventrikel kiri jantung untuk memompa darah pada pasien dengan fungsi jantung yang melemah. Ada beberapa manfaat LVAD bagi pasien yakni:
1. Meningkatkan Kualitas Hidup
Pemasangan left ventricular assist device dapat membantu mengurangi gejala gagal jantung, seperti kelelahan, sesak napas, dan keterbatasan dalam beraktivitas. Dengan begitu, penderita dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
2. Menghindari Berbagai Komplikasi Gagal Jantung
Perbaikan kinerja jantung dan aliran darah ke seluruh organ tubuh akan meningkatkan performa sistem tubuh secara keseluruhan. Dengan begitu, fungsi berbagai organ dalam, seperti ginjal, otak, dan hati akan membaik, serta daya tahan tubuh meningkat.
3. Meningkatkan Harapan Hidup
Penelitian dengan alat LVAD terkini menunjukkan angka keberlangsungan hidup mencapai 60% dalam 5 tahun. Hal ini berbeda jauh dibandingkan dengan penderita gagal jantung lanjut yang hanya mengandalkan obat-obatan, yang mana hanya mencapai 30–50% dalam 1 tahun.
Sementara itu, Founder an Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, mengatakan keberhasilan implantasi LVAD bukan hanya tentang pemasangan alat, tetapi juga pembangunan ekosistem layanan gagal jantung secara menyeluruh.
Kolaborasi antara HeartSpan.ai, RSCM, dan berbagai mitra internasional mencakup donasi perangkat, pelatihan dokter, transfer pengetahuan, hingga pengembangan sistem layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," ujarnya.
Ia mengungkapkan Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat rehabilitasi kardiovaskular di kawasan Asia, termasuk mengembangkan layanan cardiac longevity resort di destinasi seperti Bali dan Lombok.
Sementara itu, Direktur Utama RSCM, upriyanto Dharmoredjo menyebut keberhasilan implantasi LVAD CoreHeart 6 menjadi tonggak baru layanan jantung nasional sekaligus bukti kepercayaan dunia internasional terhadap kemampuan tenaga medis Indonesia.
Sementara itu, Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Birry Karim menjelaskan keberhasilan implantasi merupakan hasil kerja tim multidisiplin yang melibatkan dokter jantung, dokter bedah jantung, dokter anestesi, dokter intensif, perawat, hingga tenaga kesehatan lainnya.
Menurutnya, program penanganan gagal jantung lanjut di RSCM telah dirintis sejak 2017 melalui pembentukan layanan khusus heart failure, yang kemudian berkembang menjadi sistem pelayanan terpadu.
"Keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang, tetapi hasil kolaborasi seluruh tim. Penanganan gagal jantung lanjut memang harus dilakukan secara multidisiplin," ujarnya.
Birry mengungkapkan pasien pertama yang menjalani implantasi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dalam waktu sekitar 24 jam setelah operasi, pasien sudah dapat dilepas dari ventilator, mulai menjalani latihan mobilisasi, serta menunjukkan perbaikan berbagai parameter klinis.
Meski demikian, tim medis masih melakukan pemantauan ketat terhadap risiko infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi organ yang lazim terjadi pada fase pascaoperasi.
"Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega. Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia," katanya.
