Tantangan Pemerataan Akses Internet di Wilayah 3T, Gimana Solusinya

Ilustrasi jaringan internet
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, VoxPop – Upaya pemerataan akses internet di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) terus menjadi sorotan seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di berbagai sektor kehidupan. Ketersediaan jaringan yang stabil menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung layanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. 

img_title Bukan Setir yang Dibajak, Ancaman Terbesar Mobil Modern Ternyata Ini

Namun, tantangan geografis dan minimnya infrastruktur dasar masih menjadi hambatan utama yang menghambat percepatan transformasi digital di kawasan tersebut. Scroll lebih lanjut yuk!

Banyak titik di wilayah 3T berada di area dengan kondisi alam yang sulit dijangkau jaringan fiber, mulai dari perbukitan hingga pulau-pulau kecil. Karena itu, pendekatan teknologi harus adaptif dan memperhatikan karakteristik geografis tiap desa. 

img_title Sekolah Terpencil Mulai Masuk Era Digital, Internet dan Panel Surya Jadi Andalan

Banyak juga dari titik terdampak bencana berada di area yang selama ini menghadapi tantangan geografis sehingga jaringan fiber sulit menjangkau. Karena itu, teknologi satelit menjadi solusi relevan dan efektif.

Solusi hybrid menjadi pendekatan yang kini mulai banyak diterapkan, dengan menggabungkan jaringan terrestrial dan dukungan teknologi satelit. 

img_title Kebut Digitalisasi Pembelajaran, Pemerintah Targetkan 16.557 Sekolah Terkoneksi Internet di 2026

“Wilayah 3T menghadapi hambatan infrastruktur yang berbeda dari kawasan urban. FiberStar hadir untuk menjembatani kesenjangan digital ini dengan menghadirkan solusi hybrid—menggabungkan infrastruktur terrestrial kami dengan teknologi satelit. Dengan dukungan Starlink, konektivitas di daerah terpencil kini bisa hadir jauh lebih cepat tanpa menunggu pembangunan jaringan yang kompleks,” kata Wisnu Wardhana, Customer Service Assurance Division Head, dalam Connected Talks bersama FiberStar, di Jakarta, Kamis 4 Desember 2025.

FiberStar

Photo :
  • Istimewa

Data tahun 2024 menunjukkan masih adanya 12.548 desa yang belum memiliki akses internet memadai. Bahkan, 30 persen sekolah di wilayah terpencil masih belum tersambung ke internet stabil. 

Kondisi ini menyebabkan layanan puskesmas, kantor desa, hingga UMKM lokal kesulitan melakukan transformasi digital.

Tantangan ini juga terlihat di sejumlah lokasi seperti Kalimantan Utara. 

"Di Kalimantan Utara, di Malinau. Malinau ini juga tantangannya cukup berat karena di sana tipikalnya itu hujan cukup deras dan cukup lembat. Jadi kita juga harus membangun Starlink itu yang supaya bisa bikin proven biar lebih stabil internetnya di sana," terangnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut