Fakta Suku Korowai, Pemilik Rumah Pohon Puluhan Meter di Papua
- George Steinmetz
Rumah pohon Suku Korowai
- Negeri Timur
Rumah Korowai yang sebenarnya
Budaya pemberitaan bergambar itu telah memantik gagasan pembacanya tentang rumah pohon dari masa lalu yang dianggap masih ada dan hidup hingga saat ini. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah pemberitaan yang berlebihan atau "overrepresentation".
Rumah utama orang Korowai adalah rumah yang diberi nama xaim. Rumah ini adalah rumah yang biasa dibuat di atas tonggak-tonggak dari pohon-pohon ukuran kecil yang menjadi pancang. Umumnya xaim ini tingginya antara 10 hingga 30 kaki dari permukaan tanah. Sekitar 3 hingga 9 meter dari permukaan tanah. Rata-rata rumah jenis ini pun hanya sekitar 15 kaki atau 4,5 meter.
Orang Korowai juga punya rumah yang dibangun hanya satu meter di atas tanah atau bahkan tidak berpanggung sama sekali. Rumah ini disebut sebagai xau. Namun, foto-foto tentang rumah ini sangat jarang dipublikasikan.
Gambaran rumah yang sangat menarik perhatian dunia global adalah rumah jenis ketiga yang disebut sebagai lu-op, artinya rumah yang harus dipanjat, orang Korowai sangat jarang membuat rumah jenis ini. Rumah ‘panjat’ ini umumnya berada di ketinggian 15 hingga 35 meter di atas pohon besar yang hidup.
Foto rumah ‘panjat’ yang sangat terkenal adalah foto yang diambil oleh George Steinmetz pada 1995. Foto itu yang kemudian dipublikasikan di National Geographic pada 1996. Beberapa bulan kemudian foto ini dipublikasikan kembali di Reader's Digest, dan sejak saat itu menjadi foto yang paling banyak direproduksi untuk berbagai keperluan.
Imajinasi orang luar tentang rumah suku Korowai dalam pandangan Rupert Stasch sudah ‘out of proportion’.
Orang Korowai bercerita bahwa rumah mereka yang paling banyak adalah jenis xaim. Tujuh dari sepuluh rumah adalah rumah jenis ini. Sedangkan tiga dari sepuluh rumah adalah model xau. Hanya satu dari lima puluh rumah baru ada rumah jenis lu-op atau rumah panjat.
Dalam sejarah Korowai rumah panjat adalah rumah yang dibangun oleh pemuda-pemuda Korowai untuk menikmati pemandangan yang luar biasa. Tempat untuk menyerukan pekikan atau suara-suara dari ketinggian. Rumah panjat ini adalah bentuk pamer yang tidak terlalu penting kepada kelompok lain untuk memperlihatkan kekuatan atau kebesaran. Tetapi rumah ini tidak pernah digunakan untuk hunian.
