Taichan si Fenomenal, dari Sate Sampai Martabak
- Instagram @taichangoreng
Asal Muasal
Adalah Sunarji, pria berusia 53 tahun yang pertama kali memperkenalkan sate taichan di Jakarta. Taichan miliknya lebih populer dikenal dengan nama Taichan Amir. Namun, di warung tenda tempatnya berjualan di Senayan, tak ada embel-embel ‘sate taichan pertama’ yang terpampang.
Kepada VoxPop.co.id, Sunarji mengaku dia dan kawannya, Ocit, yang pertama kali berjualan sate taichan di kawasan Senayan.
"Dulu yang dagang itu saya sama Ocit, berdua saja," kata pria yang juga populer dengan nama Amir itu saat ditemui baru-baru ini.
Ide membuat sate taichan, diakui Sunarji berasal dari seorang pelanggan asal Jepang. Kala itu ia masih berdagang sate Madura. Sang pelanggan yang ia lupa namanya tersebut menyarankan padanya agar daging sate yang ia jual dibakar dengan garam saja hingga kering, lalu sambalnya disajikan terpisah.
Penyajian ini tentu sangatlah berbeda dengan sate yang dijual Sunarji sebelumnya. Daging sate Madura biasanya dilumuri kecap terlebih dahulu sebelum dibakar.
Sebenarnya, sambal sate taichan merupakan sambal sate ayam biasa yang dibuat dari cabai rawit, minyak, bawang putih, garam dan perasan jeruk nipis atau limau. Selain pedas, rasa asam, asin dan gurih akan terasa di lidah saat menyantapnya.
![]()
Taichan sendiri belum begitu lama eksis di ibu kota. Berdasarkan keterangan Amir, taichan baru berumur tiga tahun. 2014 adalah tahun pertama kali taichan dijual untuk umum. "Kalau populernya memang baru satu atau dua tahun ini," kata dia.
Sebelum ramai dengan pedagang taichan, kawasan Senayan tempat Sunarji berjualan dipenuhi dengan penjual nasi goreng. Namun, perlahan-lahan banyak yang beralih menjual taichan seperti dirinya.
Pria yang lahir 17 Agustus 1964 ini mengaku perubahan tersebut terjadi begitu saja. Bahkan ia mengaku tidak ada yang datang bertanya untuk menanyakan resep atau proses pembuatan taichan padanya. Meskipun sudah menjamur, ia tidak merasa tersaingi dengan keberadaan pedagang taichan lain. Sebaliknya, ia justru senang banyak yang mengikut jejaknya.
"Pelanggan sih enggak berubah, enggak merasa tersaingi. Namanya juga rezeki, kadang pasang surut. Mudah-mudahan yang lain jualannya laku semua," ujar pria asal Madura ini.
