Dokter Tirta Soroti Kasus Yurizal, Tegas Tolak Burnout Jadi Alasan Nakes Komentar Buruk ke Pasien
- YouTube Denny sumargo
Menurutnya, seseorang tetap memiliki kendali terhadap tindakannya di media sosial. Jika merasa terlalu lelah atau emosional, salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah berhenti sementara menggunakan media sosial.
"Ya, kamu bisa mengontrol jarimu. Kalau kamu stress di thread, ya kamu jangan main thread,” tegas Dokter Tirta.
Ia bahkan mengaku memilih menonaktifkan Threads karena merasa aktivitas dan pekerjaannya sudah cukup padat. Baginya, keputusan untuk tidak membalas komentar secara impulsif merupakan salah satu cara menjaga komunikasi tetap profesional.
Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa komentar di media sosial bersifat publik dan dapat dibaca oleh banyak orang. Karena itu, tenaga kesehatan harus mempertimbangkan dampak dari setiap respons yang diberikan.
"Ketika kamu mereply akun seseorang, otomatis komenmu sudah menjadi publik, dan komen itu akan dikonsumsi oleh banyak orang. Ya, itu sosial media,” terangnya.
Ia menilai tenaga kesehatan perlu memahami bahwa kemampuan medis tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan berkomunikasi. Apalagi ketika komunikasi dilakukan melalui media sosial yang memiliki karakter berbeda dengan percakapan secara langsung.
Menurut Dokter Tirta, menahan diri untuk tidak membalas komentar yang berpotensi memicu konflik justru menjadi bagian penting dalam menggunakan media sosial secara profesional.
"Menahan jari untuk tidak mereply komen yang tidak seharusnya itu sangatlah penting,” terangnya lagi.
Alih-alih memperpanjang konflik antara pasien, dokter, dan tenaga kesehatan, Dokter Tirta meminta publik melihat persoalan tersebut dari sisi yang lebih luas.
Ia menilai perdebatan horizontal justru dapat membuat persoalan utama tidak terselesaikan. Menurutnya, yang seharusnya mendapat perhatian adalah sistem pelayanan kesehatan, termasuk persoalan komunikasi dan mekanisme pelayanan yang membuat pasien merasa tidak mendapatkan kepastian. Ia pun merangkum pandangannya dengan menekankan pentingnya komunikasi dalam dunia medis.
"Intinya problem di kedokteran adalah komunikasi. Dan problem di BPJS adalah soal perbaikan sistem,” jelasnya.
Dokter Tirta juga mempertanyakan mengapa keluhan pasien bisa sampai muncul di media sosial. Baginya, munculnya keluhan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk mencari akar masalah, bukan alasan untuk saling menyerang antara pasien dan tenaga kesehatan.
