- Twitter.com/@jairbolsonaro
Bolsonaro juga terkenal sebagai Donald Trump-nya Brazil. Sebab, seperti Trump, ia juga sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial.
Bolsonaro bersumpah untuk menghapus pemikiran Marxis dari pemerintah dan dari sekolah-sekolah Brasil. "Masyarakat mengatakan 'cukup' untuk ide-ide sosialis dan komunis yang dalam 30 tahun terakhir, membawa kita ke kekacauan hidup hari ini," kata Lorenzoni, seorang tim ahli Bolsonaro kepada wartawan. Kegagalan pemerintahan sosialis yang berkuasa sebelumnya, juga membuat Bolsonaro leluasa mengencangkan isu anti-komunis.
Jair konsisten dengan sikapnya. Ia memanfaatkan kekacauan pemerintahan sebelumnya dengan mengemas berbagai isu. Ia juga menebar hoax. Misalnya dengan menuduh pemerintahan sebelumnya telah mendistribusikan 'perlengkapan gay' di sekolah-sekolah. Padahal apa yang ia sebut perlengkapan gay adalah materi untuk pendidikan seksual di sekolah. Namun Jair mengatakan pendidikan itu telah menyimpang.
Isu korupsi politik yang menderas di Brazil, juga kriminalitas yang menguat di masa pemerintahan sebelumnya berhasil ia olah sebagai bahan kampanye. Di setiap momen, ia selalu menyebut dirinya sebagai kandidat yang akan memulihkan penegakkan hukum dan ketertiban. Timnya menggunakan media sosial dengan jitu.
Mantan militer yang meski jelas-jelas tampil sebagai seorang yang diktator, intoleran, dan represif itu justru akhirnya menguasai Brazil.
Hoax dan Media Sosial Kunci Kemenangan Bolsonaro?
Kemenangan Bolsonaro, yang berhasil meraup suara pemilih hingga 55,2 persen, sama mengagetkannya dengan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Arah angin jelang Pilpres di AS sudah mengarah ke Hillary Clinton. Tapi faktanya, Trump yang menguasai kemenangan. Begitu pula di Brazil.
Arah kemenangan di Brazil sebelumnya sudah tertuju ke Fernando Haddad, apalagi ia mendapat dukungan penuh dari Luiz Inácio Lula da Silva, mantan Presiden Brazil yang meski sudah di penjara karena kasus korupsi namun masih menjadi idola masyarakat Brazil. Tapi fakta bicara beda, Bolsonaro kini siap menggoyang negeri Samba.
Benjamin Junge, seorang profesor antropologi di Universitas Negeri New York di New Paltz menjabarkan, apa saja yang menjadi kunci kemenangan Bolsonaro. Melalui wawancaranya dengan Vox, Junge yang juga penerima beasiswa Fulbright di Universitas Federal Pernambuco Brazil dan mempelajari keluarga kelas pekerja dan kelas menengah di Brazil menunjuk Whatsapp juga punya peran penting dalam kemenangan itu.
