- Twitter.com/@jairbolsonaro
WhatsApp sangat populer di Brasil, di mana media sosial itu berhasil menggantikan layanan komunikasi lainnya. Fitur obrolan grupnya banyak digunakan untuk pengorganisasian dan diskusi politik. Sifat aplikasi WhatsApp yang terenkripsi dan terdesentralisi membuat pantauan penyimpangan menjadi sulit.
Propaganda melalui Whatsapp dilaporkan menjadi kekuatan dominan di akhir musim kampanye. Bulan ini, sebuah skandal pecah ketika koran Folha de São Paulo menuduh bahwa para pendukung bisnis top Bolsonaro secara ilegal membiayai kampanye spam melalui WhatsApp.
Kepada Vox.com, Junge menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang ibu berusia 66 tahun. Ia intens berkomunikasi dengan ibu matriarkh tersebut. Di Whatsapp group keluarga, hanya anak pertama ibu ini yang mendukung Bolsonaro, sedangkan anak lainnya memilih Haddad, kandidat yang mendapat dukungan dari partai buruh.
Ia kerap memposting berita-berita tentang Bolsonaro. Postingan itu lalu ditanggapi negatif oleh cucunya yang baru menjadi mahasiswa tingkat pertama.
Bagi ibu ini, ternyata bukan informasi yang menjadi keberatannya, tapi pertengkaran yang terjadi di dalam keluarganya di group WhatsApp itulah yang menjadi sumber kemarahan sang ibu.
![]()
Presiden Brasil, Jair M Bolsonaro (kanan). (Twitter.com/jairbolsonaro)
Sebelum pemilihan, Junge kembali bertemu dengan ibu tersebut dan bertanya soal pemilihan presiden. Ibu itu hanya menunjukkan beberapa gambar perempuan berpakaian terbuka, gambar yang seolah adalah para pendukung Partai Buruh. "Saya tak ingin masyarakat seperti ini. Inilah yang akan terjadi jika Anda memilih Partai Buruh," ujarnya.
Junge menyimpulkan, apa yang dialami ibu tersebut justru membuat si ibu lebih tertarik memilih Bolsonaro. Junge yakin, banyak tipe pemilih seperti ibu tersebut yang akhirnya memenangkan Bolsonaro.
David Nemer, asisten profesor di School of Information Science di University of Kentucky, Amerika Serikat, berhasil memetakan bagaimana warga Brazil pendukung Bolsonaro terpolarisasi. Dikutip dari The Guardian, 25 Oktober 2018, Nemer melakukan riset partisipatif dengan bergabung ke empat grup di WhatsApp yang pro-Bolsonaro. Selama empat bulan Nemer memantau setiap pesan yang masuk. Setiap hari ada sekitar 1.000 pesan yang masuk per grup.
