SOROT 535

Menang Pemilu dengan Banjir Hoax

Presiden Brasil, Jair M Bolsonaro
Sumber :
  • Twitter.com/@jairbolsonaro

Hal lain yang membuat hoax menjadi marak justru karena adanya filter bubble atau gelembung penyaring di media sosial. Gelembung penyaring itu adalah sistem alogaritma yang membaca kemauan si pengguna media sosial.

img_title BRI Tegaskan Pengajuan KUR Tidak Ditawarkan Secara Online, Masyarakat Wajib Waspada Modus Penipuan

Bila seorang individu membaca satu atau dua kali berita hoax, baik sengaja atau tidak disengaja, maka sistem alogaritma di media sosial membaca bahwa si individu itu menyukai berita hoax. Alhasil, akan ada rekomendasi dari media sosial untuk membaca berita hoax lainnya. 

Alvin juga menunjuk adanya culture shock di masyarakat, yang saat ini sedang berada dalam masa bulan madu dengan media sosial. Dampaknya, masyarakat menganggap semua informasi di media sosial adalah benar, karena belum terbiasa melakukan verifikasi data.

img_title Polres Tangsel Diserang Hoax Saat Gencar Berantas Narkoba

Ia mengkhawatirkan jika hoax terus diproduksi, maka bisa terjadi perumusan kembali mana yang benar dan mana yang salah. Sebab, hoax merusak tatanan logis yang sudah ada dan membangunnya kembali berdasarkan logika ngawur yang penuh bias dari masing-masing individu, yang bisa menghasilkan gagal paham yang sulit untuk direhabilitasi. 

Hoax.

img_title Meutya Hafid Ungkap Fakta Mengejutkan soal Ruang Digital Indonesia

Unjuk rasa menolak hoaks di Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Pakar Neuro Science Prof.Roslan Yusni Hasan menuturkan, dalam sudut pandang Neuro Science mayoritas otak manusia, atau hampir semua otak manusia menerima hoax dengan cara yang sama. Makin mengancam sebuah hoax, semakin gampang diterima.

"Memberikan pengaruh kepada manusia itu memang lebih efektif dengan cara menakut-nakuti dari pada dengan memberikan harapan. Karena otaknya manusia memang begitu," ujarnya. 

Ia menjabarkan, manusia itu mempercayai apa yang ingin dia percayai. Manusia itu tidak perlu informasi, yang diperlukan adalah afirmasi atas keinginannya. Ini yang sekarang disebut sebagai afirmasi di era post-truth.

"Dari dulu manusia itu memang spesies Post-truth. Manusia ini tidak menginginkan afirmasi dari keyakinan-keyakinannya. Jadi informasi yang memberikan afirmasi terhadap keyakinan-keyakinan atau keinginannya, itu lah yang dipilih," katanya menambahkan.

Hoax, meski merusak ternyata sudah menunjukkan kemampuannya memberi pengaruh dalam proses pemilihan pemimpin negara. Dampak meluasnya pengguna media sosial yang tak berimbang dengan kemampuan melakukan verifikasi membuat hoax kerap diterima sebagai sebuah kebenaran.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut