SOROT 535

Menang Pemilu dengan Banjir Hoax

Presiden Brasil, Jair M Bolsonaro
Sumber :
  • Twitter.com/@jairbolsonaro

Ia lalu memilah pengguna WhatsApp menjadi tiga kategori, warga Brazil biasa, Bolsominions atau pendukung Bolsonaro, dan influencers. Warga Brazil biasa adalah anggota terbanyak yang berasal dari berbagai kelas sosial. Kelompok ini tak percaya pada media arus utama, dan mengklaim sebagai saksi perjalanan Bolsonaro.

img_title Viral Perusuh Ditangkap Bawa Kartu Anggota TNI, Kapuspen: Itu Narasi Bohong dan Menyesatkan!

Sedangkan Bolsominions adalah kelompok yang siap mengusir siapa saja yang anti-Bolsonaro, sedangkan influencer adalah mereka yang menciptakan konten hoax. Meski jumlahnya paling sedikit dalam tiga kategori tersebut, tapi pengaruhnya justru paling kuat. 

Mereka bekerja dengan cepat untuk melemahkan orang atau berita-berita yang mengkritik Bolsonaro. Misalnya, setelah pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen menggambarkan beberapa komentar Bolsonaro sebagai "sangat tidak menyenangkan", influencer dengan cepat menerbitkan sebuah meme yang menuduhnya sebagai seorang komunis. 

img_title BI Bantah Terbitkan Rupiah Edisi HUT RI ke-80

Beberapa berita palsu juga diciptakan. Misalnya, sekelompok "penggerak dan pelopor" menciptakan klaim selebaran palsu bahwa saingan Bolsonaro, Fernando Haddad, berencana menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan pria untuk berhubungan seks dengan anak berusia 12 tahun.

Hoax, Benarkah Metode Kampanye yang Efektif

img_title Fakta Mengejutkan di Balik Fitur 'Chat Audio' WhatsApp yang Dituduh Berbahaya

Pakar Komunikasi Politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin memberi gambaran. Hoax atau informasi yang menyesatkan menurutnya dapat kategorikan sebagai bagian dari kampanye hitam. Dalam konteks pemilu, Alvin meyakini hoax yang beredar adalah sudah didesain. "Jadi memang hoax sudah dirancang sedemikian rupa," ujarnya kepada VoxPop, Rabu, 9 Januari 2019. 

Menurutnya perkembangan teknologi memampukan tiap individu mengakses internet, sehingga siapa saja dapat mengunggah konten sesuka hati (user generated content). Kontrol informasi tidak lagi di tangan media atau jurnalis.

Berbeda dengan para jurnalis yang bertanggung jawab atas apa yang mereka tulis, individu yang non jurnalis ini bisa sesuka hati memproduksi hoax. Hal ini ditambah rasa percaya publik yang tergerus pada media mainstream karena kuatnya campur tangan pemilik media pada dapur pemberitaan. 

"Polarisasi di masyarakat juga makin tinggi.Masyarakat terbelah dalam kubu-kubu sesuai yang mereka percayai.  Hal ini merupakan conformation of bias atau mencari pembenaran atas bias politik masing-masing individu. Para individu yang literasi politiknya kurang baik, biasanya mencari media yang memberikan konfirmasi terhadap pilihan politiknya, tidak jarang media berisi hoax pun menjadi conformation of bias mereka," ujarnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut