- www.nrc.nl
Sementara, 25 persen responden lainnya menyatakan kondisi saat ini sama saja dengan zaman orde baru, dan 23 persen lainnya tidak tahu atau tidak menjawab. Direktur Puskaptis Husin Yazid menilai kemerosotan popularitas pemerintahan SBY disebabkan politik citra yang dianut pemerintah. " Segala masalah ditutupi dengan politik pencitraan. Masyarakat sudah jengah," katanya.
Sebagai komoditas politik, popularitas putra-putri Soeharto, pun masih diperhitungkan. “Mereka memilih trah Soeharto. Masih memiliki daya tarik,” kata politisi Hanura Yuddy Chrisnandi. Yuddy sempat beraliansi dengan Tommy Soeharto pada Munas Golkar 2009. Hanya saja, kata Yuddy, popularitas itu masih harus didukung upaya riil di lapangan, semisal menghimpun dukungan di daerah.
Soalnya, kerinduan itu tak berarti rakyat setuju memilih figur orde baru. “Bila saat ini disuruh memilih, tentu masyarakat masih akan tetap memilih Presiden SBY ketimbang figur orde baru," kata Yuddy.
Apapun kontroversi survei itu, kerinduan atas orde baru adalah nyata. Lihat saja acara tahlilan 1000 hari wafatnya Soeharto, digelar serempak baik di kediaman keluarga Cendana, maupun di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah, Astana Giri Bangun Karanganyar, serta di Desa Kemusuk Bantul Yogyakarta, Jawa Tengah, pada 22 Oktober 2010.
Ribuan orang dari berbagai kota hadir pada acara itu. Jalanan macet oleh bus peserta yang parkir mengular di sekitar lokasi. Di jalanan Pantai Utara Jawa, misalnya, tak jarang kita menemukan ungkapan kerinduan itu di lukisan belakang bak truk. Ada gambar Soeharto tersenyum, dengan tulisan: “Iseh Penak Zamanku (Masih enak zaman saya)".
Mungkin juga keresahan atas situasi sekarang menjadi semacam peluang politik, katakanlah bagi seorang Iwan Panggu yang mendirikan organisasi Ikatan Masyarakat Pecinta Soeharto, yang disingkat IMAHA, pada tahun 2006 lalu. “Kami ingin menampung orang-orang yang merindukan zaman di mana kita bisa merasakan keamanan, ketentraman dan kemudahan dalam mencari makan,” ujar mantan wartawan itu.
Iwan mengklaim wadahnya menuai banyak dukungan. Mereka sesekali berkumpul di “markas” IMAHA yang berupa warnet milik Iwan di Lenteng Agung Jakarta Selatan. Menjelang Soeharto wafat 4 Januari 2008, mereka rajin membela penguasa orde baru itu dari pelbagai hujatan.
